Rupiah Kena Koreksi Tipis

Rupiah Kena Koreksi Tipis

- detikFinance
Jumat, 16 Okt 2009 08:50 WIB
Rupiah Kena Koreksi Tipis
Jakarta - Setelah terus menerus menguat, nilai tukar rupiah akhirnya disapa oleh koreksi. Namun investor menilai trend penguatan rupiah masih akan terus berlanjut.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2009), rupiah dibuka melemah tipis di 9.337 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.330 per dolar AS.

Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, penguatan rupiah akhir-akhir ini tidak ada kaitannya dengan rencana pembentukan baru. Menurutnya, penguatan rupiah semata disebabkan adanya kepercayaan para investor terhadap perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan SBY sebelumnya

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya melihat penguatan rupiah itu bukan karena menunggu pengumuman kabinet, tapi pada saat SBY menang saja investor sudah ada keyakinan," jelas Aviliani saat menghadiri acara silaturahmi dan syawalan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia di Departemen Keuangan, Jakarta, malam kemarin (15/10/2009).

Aviliani menjelaskan penguatan ini karena ada faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internalnya adalah tingkat suku bunga di Indonesia yang masih tinggi. Sementara faktor eksternalnya adalah pelemahan dolar AS terutama atas euro.

Namun yang perlu disikapi, tambah Aviliani, ketika perekonomian negara lain mulai membaik, utang swasta akan meningkat karena utang luar mulai murah. Jika pinjaman banyak dan rupiah kembali memburuk maka utang negara akan berkali lipat. Hal ini yang terjadi pada krisis tahun 1998. Oleh karena itu, diperlukan stabilitas dalam dunia usaha.

"Karena sekarang ini sifatnya hanya jangka pendek, maka begitu negara lain membaik, rupiah akan gonjang-ganjing lagi. Bagi dunia usaha stabilitas dibutuhkan," papar Aviliani.

Untuk menciptakan stabilitas itu, ungkap Aviliani, diperlukan kontrol devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Hal ini untuk mengantispasi belum baiknya kinerja ekonomi Indonesia dimana belum berubahnya ekspor impor bahkan pinjaman semakin meningkat.

"Tanpa kontrol devisa tidak akan ada stabiliats nilai tukar karena dari kinerja ekonomi, kita belum punya perbaikan. Ekspor impor belum berubah, pinjaman juga belum berubah, malah naik. Kan bahaya," tegas Aviliani.

Aviliani mengungkapkan keadaan seperti ini berlangsung masih lama karena belum ada negara lain yang telah mengatasi dampak krisis ekonomi global dalam waktu dekat. Bisa sampai akhir 2009 atau Agustus 2010. Selama masa ini, tidak akan terjadi gejolak nilai tukar di Indonesia.

"Jadi artinya sampai 2009, saya tidak khawatir terjadi gejolak nilai tukar. Untuk 2010, saya menduga sampai Agustus pun masih oke karena sampai Agustus pun belum ada perbaikan, mungkin bahkan saapai akhir 2010. Jadi rupiah masih akan aman," ucap Aviliani yakin.


(nia/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads