Harga EXCL ditutup di level Rp 1.300 pada perdagangan Kamis (15/10/2009). Namun seiring dengan diumumkannya secara resmi harga rights issue EXCL di level Rp 2.000 per saham, harga EXCL langsung menanjak cepat pada awal perdagangan sesi I Jumat (16/10/2009).
Pada pukul 10.20 Waktu JATS, harga EXCL telah naik tajam Rp 320 (24,61%) ke Rp 1.620 per saham. Harga EXCL pun bertengger di level tertinggi kenaikan untuk hari ini alias menyentuh auto rejection atas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Volume perdagangan EXCL pun meningkat tajam, mencapai 156 lot dengan nilai transaksi mencapai Rp 124,46 miliar. Nilai tersebut sudah sangat besar, mengingat volume saham publik EXCL hanya sebanyak 16.565.000 lembar saham (0,23%) atau setara dengan 33.130 lot saja.
EXCL sebenarnya tergolong saham yang kurang aktif diperdagangkan. Pada perdagangan kemarin, EXCL hanya diperdagangkan sebanyak 1 lot saja. Selama 1 tahun terakhir, volume perdagangan tertinggi EXCL terjadi pada 7 September 2009 sebanyak 261 lot dengan nilai transaksi Rp 180,885 miliar.
Harga saham EXCL hari ini menjadi harga tertinggi sejak 16 Oktober 2008. Pembeli-pembeli utama EXCL hari ini datang dari broker-broker seperti PT Sucorinvest Central Gani (AZ) sebanyak 61 lot, PT eTrading Securities (YP) sebanyak 29 lot, PT Indopremier Securities (PD) sebanyak 23 lot, PT Ciptadana Securities (KI) sebanyak 20 lot dan sebagainya.
Pada papan perdagangan pun antrian beli tampak menumpuk pada harga Rp 1.620 sebanyak 240 lot.
EXCL menetapkan harga penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 2.000 per saham. Target dana yang akan diperoleh sebesar Rp 2,836 triliun.
Jumlah saham baru yang akan diterbitkan EXCL sebanyak 1,418 miliar saham (16,66%) dengan menggunakan rasio 5 pemegang saham lama berhak mengeksekusi 1 saham baru yang akan diterbitkan.
Saat ini pemegang saham EXCL adalah Indocel Holding Sdn Bhd sebanyak 5,94 miliar saham (83,8%), Etisalat sebanyak 1,132 miliar (15,97%) dan masyarakat sebanyak 16,565 juta saham (0,23%).
Dana perolehan rights issue sebesar Rp 2,836 triliun akan digunakan untuk melunasi utang perseroan kepada DBS Bank Ltd, Export Development Canada, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd dan Chinatrust Commercial Bank senilai Rp 1,327 triliun (US$ 140 juta), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 400 miliar (US$ 42,171 juta), PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 474,25 miliar (US$ 50 juta), PT Bank DBS Indonesia sebesar Rp 474,25 miliar (US$ 50 juta) dan EKN Buyer Credit Facility sebesar Rp 159,6 miliar (US$ 16,826 juta).
Pada 16 November 2009 perseroan berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan pemegang saham. Pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 1 Desember 2009. (dro/qom)











































