Pemegang Saham SULI Tolak Penjualan dan Pengalihan Piutang SHJ

Pemegang Saham SULI Tolak Penjualan dan Pengalihan Piutang SHJ

- detikFinance
Jumat, 16 Okt 2009 14:35 WIB
Pemegang Saham SULI Tolak Penjualan dan Pengalihan Piutang SHJ
Jakarta - Pemegang saham minoritas PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI) tidak menyetujui pelepasan PT Sumalindo Hutani Jaya (SHJ) kepada PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) serta penjualan piutang sebesar US$ 14 juta kepada Marshall Enterprise Ltd.

"Kami tidak setuju dengan rencana divestasi SHJ berikut penjualan piutang senilai US$ 14 juta," ujar Agustinus yang mewakili pemegang saham minoritas SULI saat dihubungi detikFinance , Jumat (16/10/2009).

Agustinus merupakan perwakilan yang ditunjuk oleh 3 pemegang saham minoritas SULI yakni Deddy Hartawan Jamin (6,15%), Deutsche Bank AG cabang Singapura (5,06%) dan UBS AG Singapore (5,01%). Pemegang saham pengendali SULI adalah PT Sumber Graha Sejahtera 2 dengan kepemilikan sebesar 51,63%.

Menurut Agustinus, pemegang saham minoritas tidak sepakat terutama pada dua hal, yakni divestasi SHJ dan penjualan piutang kepada SHJ senilai US$ 14 juta.

"SHJ adalah pemasok bahan baku utama bagi produksi SULI. Jika dijual tentu akan mengganggu kinerja SULI ke depannya," jelas Agustinus.

SHJ merupakan anak usaha duet SULI dan PT Inhutani I dengan kepemilikan masing-masing sebesar 60% dan 40%. Rencananya, SHJ akan dijual kepada TKIM senilai Rp 7,201 miliar.

Masalah kedua yang dipertanyakan pemegang saham minoritas adalah rencana SULI mengalihkan alias menjual piutang (hak tagih) atas utang SHJ sebesar US$ 14 juta kepada Marshall Enterprises. Penjualan piutang tanpa bunga ini menjadi pertanyaan pemegang saham minoritas.

"Jadi SHJ punya utang pada SULI sebesar US$ 14 juta. Anehnya SULI memberikan pinjaman kepada SHJ tanpa bunga sama sekali. Kita pun sebagai pemegang saham tidak tahu ada utang tersebut. Sekarang malah mau dijual dengan harga sama. Artinya, SULI tidak mendapat keuntungan dari penjualan ini," jelasnya.

Agustinus mengatakan sudah mempertanyakan pada manajemen soal asal-usul utang tersebut. Namun menurutnya, manajemen belum memberikan jawaban yang dinilai tepat oleh Agustinus.

"Jadi sudah tidak memperoleh bunga dari utang tersebut, sekarang mau dijual dengan harga sama. Kita ingin tahu alasannya," ujarnya.

Agustinus pun mengatakan, Marshall merupakan perusahaan terafiliasi dari TKIM. "Kalau tidak salah itu salah satu anak usaha TKIM," ujarnya.

Saat ini, lanjut Agustinus, pihaknya sedang menunggu penjelasan lebih lanjut dari manajemen terkait pokok-pokok masalah di atas. Ia mengatakan belum akan mengambil langkah tertentu atas masalah tersebut. (dro/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads