Tercatat, produksi TBS Sampoerna Agro sampai September mencapai 827.451 ton, padahal di periode yang sama tahun 2008, jumlahnya masih sebanyak 834.216 ton.
Demikian disampaikan perseroan melalui Bulletin dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (19/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenaikan terjadi karena tren produksi yang telah terjadi di tahun 2005 dan 2007," Corporate Secretary SGRO, Eris Ariaman.
Menurutnya, dengan kenaikan pada triwulan III-2009 perseroan telah mencapai produksi konsolidasi mencapai 827.451 ton. Perhitungan ini didasarkan atas akumulasi produksi 9 bulan dalam tahun berjalan (September).
Namun demikian, produksi konsolidasi 9 bulan di tahun ini menurun 0,8% dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 jumlahnya mencapai 834.216 ton, dan di tahun 2009 berjumlah 827.451 ton.
Untuk harga rata-rata minyak sawit, berdasarkan pasar fisik Rotterdam dan pasar berjangka/derivative (MDEX) mengalami penurunan di triwulan III-2009. Harga yang berlaku saat ini adalah MYR 2.253/ton. Bandingkan dengan harga pasar MDEX di triwulan II-2009, mencapai MYR 2.546 per ton.
Pada bulan September 2009, SGRO menjual minyak sawitnya di harga (rata-rata) Rp 6,26 juta per ton, atau ekuivalen dengan MYR 2.251 per ton.
"Penjualan sawit Sampoerna Agro lebih rendah 19,9% dibanding periode yang sama di tahun 2008 yang sebesar Rp 7,81 juta per ton atau ekuivalen dengan MYR 2.808 per ton," katanya.
Pada minyak sawit mentah yang juga diperdagangkan di MDEX, harga rata-rata sampai September 2009 mencapai MYR 2.259 per ton. Harga tersebut lebih rendah 30,3% dibanding periode yang saham tahun 2008, yaitu MYR 3.239 per ton.
Peningkatan 86,5% volume produksi yang terjadi pada triwulan III-2009, menyebabkan pendapatan perseroan tercatat positif. Sampai September 2009, pendapatan perseroan mencapai Rp 1,19 triliun atau menurun 36,2% pada 2008 yang mencapai Rp 1,86 triliun.
(dro/dro)











































