Demikian diterangkan Corporate Secretary DGIK Djohan Halim di hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta, Selasa (20/10/2009).
DGIK menjalin kerjasama dalam jangka waktu kontrak yang lebih panjang. Menurut Dudung, hal ini dilakukan untuk memberi jaminan pembayaran (secured payment) serta supaya tingkat persaingan tidak terlalu ketat (less competition).
"Secured payment dan less competition dilakukan karena entry barrier untuk pekerjaan kontrak pertambangan yang dikenal tinggi," ungkap Djohan.
Secara bertahap dengan kerjasama ini, diharapkan akan memberi kontribusi pendapatan kepada perseroan Rp 1 triliun per tahun.
Sayangnya Djohan tidak menjelaskan secara rinci lokasi yang menjadi incaran mereka. "Kami sedang mencari lokasi bersama-sama. Tapi fokus kami di Kalimantan dan Sumatera,"paparnya.
Perseroan saat ini menjajaki 4 kontrak tambang yang sedang dalam proses tender. Diharapkan dalam 1 tahun setelah MoU, operasi tambang emas dan batu bara sudah mulai beroperasi.
"Untuk target produksi,kami minimal dapat menghasilkan volume 1juta ton per tahun untuk batubara," tambah Djohan.
Perseroan yang diawal berdiri bergerak di bidang jasa konstruksi infrastruktur,mulai melirik sektor pertambangan sebagai bidikan pasar potensial.
"Segmen pasar pertambangan sangat potensial. Di Indonesia potensinya keenam terbesar di dunia," papar Djohan.
Tahun ini, lanjutnya, perseroan sedang menkonsolidasikan pertumbuhan internal pada masa akan datang. Salah satunya kerjasama dengan Macmahon Australia.
(dro/dro)











































