Pada perdagangan Rabu (21/10/2009), rupiah dibuka melemah lagi ke level 9.480 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.387 per dolar AS.
Sementara dolar AS kemarin tercatat menguat tipis karena data ekonomi yang mengecewakan dan membuat bursa Wall Street melemah, memicu investor untuk kembali ke mata uang yang aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Euro melemah setelah data menunjukkan sektor perumahan tumbuh lebih lambat. Data Departemen Perdagangan menunjukkan permulaan konstruksi pada rumah yang dimiliki swasta naik tipis 0,5% menjadi 590.000 atau lebih rendah dari ekspektasi para ekonom sebesar 610.000.
Izin pembangunan rumah baru yang merupakan indikator utama sektor ini juga turun 1,2% menjadi 573.000, juga lebih rendah dari ekspektasi sebanyak 595.000 izin.
Boris Schlossberg dari Global Forex Trading mengatakan, kekhawatiran tentang tingkat pemulihan dari resesi kemungkinan akan memicu lagi permintaan akan aset-aset yang aman seperti dolar AS. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus US$ 80 per barel menjadi sinyal munculnya permasalahan pemulihan ekonomi.
"Jika harga minyak bertahan pada level ini hingga akhir tahun atau memburuk hingga mendekati US$ 100 per barel, maka itu menjadi bukti untuk penarikan pemulihan ekonomi yang mulai timbul," ujarnya seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































