Menkeu: Pelemahan Rupiah Tak Terkait Kabinet Baru

Menkeu: Pelemahan Rupiah Tak Terkait Kabinet Baru

- detikFinance
Jumat, 23 Okt 2009 08:55 WIB
Menkeu: Pelemahan Rupiah Tak Terkait Kabinet Baru
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pelemahan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin tidak terkait sentimen pasar terhadap susunan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Menurutnya, banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Dan pelemahan rupiah saat ini akibat reaksi terhadap kondisi perekonomian global.

"Gerakan sehari menurut saya tidak akan memengaruhi. Jadi, akan kita lihat fondasi ke depannya," ujar Sri Mulyani usai serah terima jabatan Menteri Koordinator Perekonomian di Kantor Kementerian Koordinator Perekononian, Jakarta, kemarin malam (22/10/2009).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis setelah kemarin melemah menembus lagi level 9.500 per dolar AS. Rupiah mulai mengikuti lagi jejak mata uang regional yang juga sedang menguat lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada perdagangan Jumat (23/10/2009), rupiah dibuka menguat tipis ke 9.520 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.540 per dolar AS.

Menkeu menjelaskan faktor global yang memengaruhi pelemahan rupiah yaitu adanya sentimen yang berhubungan dengan perubahan konstelasi ketidakseimbangan perekonomian antara Amerika Serikat dengan negara lain. Pengaruhnya untuk Indonesia mencapai 15%.

"Ada yang sifatnya berhubungan dengan ketidakseimbangan perekonomian Amerika Serikat dengan yang lain Untuk Indonesi apresiasi sampai 15%," jelas Sri Mulyani.

Ditambahkannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengingatkan agar setiap kebijakan dan program diarahkan untuk memperbaiki perekonomian Indonesia. Hal ini sebagai bentuk konsistensi pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini, menciptakan kesempatan kerja dan investasi yang akhirnya memperbaiki kesejahteraan rakyat.

"Pembuatan kebijakan ini semuanya akan diharmoniskan dari sisi moneter, fiskal, neraca pembayaran sehingga tidak ada gap yang berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah," tegasnya.


(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads