Demikian data Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dikutip detikFinance, Selasa (27/10/2009).
Pada tahun 2008, BEI hanya mencatat penerbitan sukuk 6 perusahaan senilai Rp 1,534 triliun, terdiri atas:
- Sukuk Ijarah PT Aneka Gas Industri Rp 160 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 570 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) Rp 90 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Summarecon Tbk (SMRA) Rp 200 miliar.
- Sukuk Mudharabah PT Bank Muamalat Rp 314 miliar.
- Sukuk Mudharabah PT Mayora Indah Tbk (MYOR) Rp 200 miliar.
Hingga triwulan III-2009, sebanyak 4 perusahaan telah menerbitkan sukuk senilai Rp 1,236 triliun, terdiri atas:
- Sukuk Ijarah PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) Rp 100 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) Rp 226 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Perusahaan Listrik Negara Rp 760 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) Rp 150 miliar.
Sementara berdasarkan prospektus penerbitan sukuk yang telah dipublikasikan, sebanyak 4 perusahaan sudah memastikan akan menerbitkan sukuk senilai Rp 1,250 triliun di triwulan IV-2009, terdiri atas:
- Sukuk Ijarah PT Pupuk Kaltim Rp 300 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 500 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Salim Ivomas Pratama Rp 250 miliar.
- Sukuk Ijarah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) Rp 200 miliar.
Dengan demikian, total penerbitan sukuk tahun ini, jika tidak ada penambahan akan mencapai Rp 2,486 triliun. Angka tersebut meningkat drastis 62,05% dari penerbitan sukuk tahun 2008 yang hanya sebesar Rp 1,534 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, seiring berkembangnya industri syariah di Indonesia yang cukup pesat, permintaan akan sukuk meningkat secara linier. Hal itu dapat dilihat dari mulai banyaknya perusahaan-perusahaan yang menerbitkan obligasi konvensional bersamaan dengan penerbitan sukuk.
Tahun 2009 ini, sebanyak 6 perusahaan menerbitkan obligasi kombinasi antara konvensional dengan sukuk. Sebut saja, BLTA, PLN, Pupuk Kaltim, ISAT dan Salim Ivomas.
"Pembeli utama sukuk adalah reksadana syariah dan bank syariah. Perkembangan industri syariah mendorong munculnya kebutuhan akan penempatan modal syariah di pasar modal," jelas Kahlil.
Kahlil mengatakan, meski fluktuasi tren suku bunga perbankan juga menjadi salah satu pendorong berkembangnya penerbitan sukuk, namun pasar sukuk juga masih menyisakan ruang cukup luas bagi penerbitan sukuk.
"Permintaan sukuk di tahun 2009 ini sekitar Rp 5-7 triliun. Jadi kalau tahun ini penerbitan sukuk baru sekitar Rp 2-3 triliun, artinya masih ada ruang cukup luas," jelasnya.
Oleh sebab itu, Kahlil memperkirakan pasar sukuk masih akan terus meningkat di tahun 2010.
(dro/qom)











































