Pada perdagangan Rabu (28/10/2009), rupiah ditutup merosot hingga 9.690 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 9.585 per dolar AS.
Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, pelemehan harga saham di Emerging Market Asia memicu arus modal keluar sehingga menekan mata uang kawasan tersebut, termasuk Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia menegaskan, menguatnya dolar AS terhadap mata uang emerging Asia bukan berarti era melemahnya dolar AS berakhir. Hal ini disebabkan karena defisit AS masih besar, termasuk suku bunga yang rendah dan pemulihan ekonomi yang masih lambat.
"Sementara propek ekonomi Indonesia yang baik masih membuka ruang yang besar untuk menguatnya Rupiah ke depan," pungkas Hartadi.
Bursa-bursa regional hari ini kembali melemah. Di pasar Asia, yen menguat atas mayoritas mata uang. Kekhawatiran seputar outlook perekonomian global memicu investor untuk kembali ke mata uang yang aman termasuk dolar AS dan yen. Euro melemah ke 135,25 yen, dolar AS juga melemah ke 91,22 yen.
"Euro sepertinya akan tetap melemah untuk sekarang karena pasar sedang bearish dan tidak stabil lagi, menekan para pialang valas kembali ke mode risk-aversion," uar Yuichiro Harada, analis dari Mizuho Corporate Bank seperti dikutip dari AFP.
(dru/qom)











































