Pada perdagangan Jumat (30/10/2009), rupiah ditutup menguat ke 9.590 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.610 per dolar AS. Kemarin rupiah sempat melemah ke 9.715 per dolar AS, mengikuti tren pelemahan mata uang global atas dolar AS.
Namun seiring membaiknya lagi pasar finansial, dolar AS pada hari ini sudah melemah lagi. Dolar AS melemah atas yen ke 91,02 yen, dibandingkan sebelumnya di 91,42 yen. Euro stabil di 1,4845 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4833 dolar.
Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin disebabkan karena arus keluar dolar yang cukup besar. Investor-investor asing melepas portofolionya di pasar saham dan juga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
"BI melakukan upaya membuat dia jangan terlalu jatuh. Seandainya BI tidak berbuat apa-apa baik saat rupiah menguat atau jatuh, itu pasti lebih ekstrim," ujar Darmin saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (30/10/2009).
Menurut Darmin, pelemahan rupiah kemarin juga dipicu oleh aksi profit taking dari para pemilik dana yang sebelumnya berbondong-bondong masuk.
"Di seluruh dunia harga saham sedang jatuh, dan memang di AS gambaran tentang pemulihan ekonomi tidak terlalu bagus. Ini kan selalu anomalinya kalau di AS tidak terlalu bagus, yang terjadi adalah dolar AS mencari aman," ujar plt Gubernur BI ini.
Darmin meyakini nilai tukar rupiah akan terus menguat karena secara fundamental didukung oleh perekonomian Indonesia yang baik.
"Kita melihat (pelemahan rupiah) ini tidak akan terus menerus, malah arahnya dolar itu kecenderungannya melamah," pungkas Darmin. (qom/dnl)











































