Demikian dijelaskan Direktur TOTL Arif Suhartojo seusai public expose di kantornya Jalan S. Parman Jakarta Senin (8/11/2009).
Menurutnya, Total pada minggu lalu telah melakukan penandatanganan kontrak join venture oleh kedua mitra peseroan. Total mengambil porsi 10% saham. ALMOSA mendominasi komposisi perusahaan baru sebesar 83%, sisanya dimiliki PT Kanz Sapta Niaga Tbk. 7%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, ketertarikan Total untuk ikut dalam proyek negara Arab ini, disebabkan potensi pembangunan di sana masih terbuka lebar. Bersamaan juga, ALMOSA mengajak perseroan ikut serta dalam pengerjaan proyek di Asia Barat.
"Disana lahan masih luas, Untuk itu kita ingin bangun, bersama-sama ALMOSA," kata Arif.
Ditambahkannya, proses administrasi pembentukan perusahaan sedang berjalan. Pada awal tahun 2010, Saudi Mosa Total Ltd. siap mengikuti sejumlah tender pengerjaan bangunan, khususnya hunian di Riyad Saudi Arabia.
"Administrasi memakan waktu 1-2 bulan, tahun depan kami siap ikut tender," imbuhnya.
Kedepan, porsi saham Total dimungkinkan akan bertambah jika proyek tahap awal yang didapat, berjalan lancar. "Penambahan belum kami bahas, tapi kemungkinan itu ada. Kita lihat 1-2 tahun kedepan," paparnya.
Dengan joint venture ini, total laba perseroan diharapkan dapat bertambah, seiring dengan proyek yang dikerjakan.
Mengenai kinerja keuangan, perseroan optimistis bakal mencatat pertumbuhan laba sebesar 15% di 2009. Sumbangan laba, diperoleh dari kontrak baru perseroan yang ditargetkan Rp 1,7 triliun.
"Peningkatan laba, pastinya disumbang oleh perolehan kontrak baru kami. Target kami sampai akhir tahun Rp 1,7 triliun. Tinggal Rp 500 miliar, dan akan kami kejar sampai Desember ini," tutur Arif.
Ditambahkannya, kontrak senilai Rp 1,7 triliun terdiri dari 15-20 proyek yang tersebar di seluruh Indonesia. Porsi sektor perkantoran dan utilitas sampai akhir Desember 2009, menjadi andalan perseroan. Nilai kontrak perkantoran tercatat Rp 1,2 triliun, dan utilitas Rp 680 miliar.
"Proyek perkantoran punya demand yang tinggi, untuk itu sektor ini tumbuh paling tinggi dibanding yang lain. Untuk utilitas, kita masih coba jajaki, karena potensinya juga ada. Kita sedang proses untuk infrastruktur power plant," katanya.
Sampai November, perseroan sudah mendapatkan Rp 200 miliar, dari proyek pembangunan Lapangan Terbang Berau Kalimantan Timur dari Rp 500 miliar sisa target.
"Kita sudah raih kontrak lagi sebesar Rp 200 miliar untuk pembangunan terminal kedatangan, terminal keberangkatan, menara pengawas dan gedung utility di Kalimantan Timur, bagian atas," imbuh Arif.
Masa pengerjaan pembangunan Lapangan terbang ditargetkan rampung dalam 403 hari, hingga di akhir tahun 2010 sudah bisa dioperasikan.
Lapangan terbang Berau, merupakan milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kaltim, dengan komposisi pengerjaan proyek 40% pemerintah. Sisanya 60%, diserahkan kepada swasta. (dro/dro)











































