Menjelang berakhirnya masa pengumuman laporan keuangan, dan usainya sentimen keputusan Bank Sentral AS pekan lalu, investor kini sedang mencari katalis baru untuk menentukan arah pasar.
"Setelah S&P 500 naik di atas 1.100, maka kini memasuki masa yang sulit untuk mendapatkan gain lagi," ujar Quincu Krosby, analis dari Prudential Financial seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentimen negatif juga datang dari penguatan dolar AS. Mata uang ini kembali dicari setelah para pembuat kebijakan di berbagai belahan dunia memperingatkan pemulihan ekonomi yang masih labil. Hal itu memicu investor untuk kembali memburu dolar yang merupakan safa-haven.
"Untuk bisa menguat ke level berikutnya, pasar tidak perlu katalis yang kuat, dan pada sebagian besar waktu, penguatan dolar menjadi sentimen negatif," tambah Krosby.
Perdagangan masih sangat tipis, dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya 1,05 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi juga hanya 2,24 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar. Â Â Â
Harga Minyak Merosot
Sementara harga minyak mentah dunia tercata merosot tajam setelah adanya lonjakan cadangan minyak mentah dunia, sementara permintaan terindikasi terus melemah.
Kontrak utama minyak light sweet pengiriman Desember merosot 2,34 dolar menjadi US$ 76,94 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Desember merosot 1,93 dolar menjadi US$ 76,02 per barel.
Departemen Energi AS merilis cadangan minyak mentah AS naik 1,8 juta untuk pekan yang berakhir 6 November. Pasar hanya mengantisipasi kenaikan 200 ribu barel.
(qom/qom)











































