Dana Investasi Jamsostek Tembus Rp 77 Triliun

Dana Investasi Jamsostek Tembus Rp 77 Triliun

- detikFinance
Senin, 16 Nov 2009 13:39 WIB
Dana Investasi Jamsostek Tembus Rp 77 Triliun
Jakarta - Dana investasi PT Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja (Jamsostek) telah mencapai Rp 77,1 triliun pada akhir triwulan III-2009. Angka tersebut sudah melampaui target setahun penuh 2009 yang sebesar Rp 72 triliun.

"Dana investasi kita di September 2009 sudah menembus Rp 77,1 triliun melewati target RKAP akhir tahun Rp 72 triliun," ungkap Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Masyasya usai raker bersama Komisi IX di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/11/2009).

Ia mengatakan, porsi investasi terbesar dipegang oleh obligasi sebanyak 46 persen, atau setara dengan Rp 35,46 triliun. Menurutnya, porsi ini akan lebih ditingkatkan lagi di tahun depan. Hal ini terkait dengan tingkat bunga deposito yang sudah diturunkan oleh sejumlah bank dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebanyak 70 persen obligasi disimpan dalam bentuk SUN, sebagian lagi korporasi besar swasta, seperti Indofood dan Indosat. Kami tidak pegang obligasi gurem," ujarnya.

Dana investasi terbesar kedua perusahaan plat merah itu disimpan dalam bentuk deposito sebesar 34 persen, atau setara dengan Rp 26,21 triliun.

Ia menambahkan, deposito itu disimpan di 4 bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sejumlah bank daerah. Serta ada beberapa di bank swasta asing seperti, Bank Danamon, CIMB Niaga dan Bank Permata.

"Kalau di Century Rp 0," ungkapnya.

Sementara dana investasi dalam bentuk saham mencapai 16 persen dari total dana investasi, atau sekitar Rp 12,33 triliun. Menurut Elvyn, seluruh saham yang dimiliki Jamsostek merupakan saham bluechips.

"Beberapa tahun lalu kita punya saham gurem, tapi sekarang sudah dilepas semua," ujarnya.

Dalam bertransaksi, Jamsostek dibantu oleh perusahaan sekuritas plat merah, seperti Danareksa dan Bahana, juga anak usaha BUMN seperti Mandiri Sekuritas dan BNI Securities.

Dari dana kelolaan dalam bentuk saham tersebut, perseroan mendapat potensi keuntungan (potential gain) sebesar Rp 2,8 triliun di akhir September 2009. Pada akhir tahun lalu, perseroan sempat mengalami potensi kerugian (potential loss) sebesar Rp 2,7 triliun.

(ang/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads