Menurut Direktur Utama GGRM Heru Budiman, alokasi belanja modal akan digunakan untuk penambahan depo, bangunan kantor dan peremajaan armada.
"Extra capex kami anggarkan Rp 600 miliar, dengan tambahan Rp 250 miliar merupakan capex reguler di tiap tahunnya," kata Heru di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) SCBD Jakarta Selasa (17/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa tempat, diantaranya akan ada diantara Aceh Lhoksemawe. Ini guna memperlancar distribusi," terang Heru.
Selain penambahan Depo, perseroan akan melakukan peremajaan armada, penambahan kantor baru, dan perangkat sistem informasi.
Pendanaan capex akan didapatkan dari kas internal GGRM ditambah pinjaman dari luar. "Tahun ini saja, hutang kita Rp4-4,5 triliun. Mungkin ada tambahan seperti pada tahun sebelumnya (2008) Rp 6,7 triliun," tambahnya.
Sayangnya, ia tidak menyebutkan secara lebih detil mengenai pendanaan perbankan tersebut.
Tercatat, sampai triwulan III-2009, penjualan rokok perseroan turun tipis sebanyak 3 milliar batang menjadi 152 miliar batang. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, mereka mencatat volume produksi 155 miliar batang.
Jumlah volume produksi, terbagi menjadi 2 varian, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Jenis rokok SKT volume produksi mencapai 53 miliar batang, dan SKM Rp 99 miliar batang.
Pangsa pasar GGRM pun tercatat naik, pada kombinasi produk SKT dan SKM. Posisi triwulan III-2009, pangsa pasar GGRM berada di level 30% meningkat 2,4% dari posisi triwulan III-2008 sebesar 27,6%.
(dro/dro)











































