Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Niaga dan Pengembangan Usaha Timah Gatut Hari Prasetyo di sela paparan publik di Hotel Ritz Carlton SCBD, Jakarta, Kamis (19/11/2009).
"Kita sedang melihat perusahaan tambang di Kalimantan Timur. Minimal cadangannya 50 juta ton," katanya.
Ia mengatakan, rencana akuisisi tambang ini terlepas dari rencana akuisisi tambang milik BHP Billiton. Perusahaan plat merah itu sebelumnya diajak masuk dalam konsorsium bersama PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dalam rencana tersebut. "BHP kita masih timbang-timbang, itu kan ajakan PTBA. Kalau PTBA sudah pasti," tambahnya.
Emiten berkode TINS itu mentargetkan akusisi tambang di Kalimantan Timur tersebut bisa rampung sebelum akhir tahun 2010.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Timah Krishna Syarif mengatakan, perseroan siap mencari pinjaman perbankan dalam rencana akuisisi tersebut. "Tahun 2010 nanti, opsi pinjaman perbankan juga terbuka," ungkap Krishna.
Sementara itu, mengenai kinerja tahun 2010, ia mengatakan, akan ada perbaikan dibandingkan tahun 2009. Ia memperkirakan harga jual timah akan kembali naik. "Kinerja 2010 nanti kita perkirakan kurang lebih sama dengan tahun 2008," katanya.
Hingga penghujung tahun 2008 lalu, perseroan sudah membukukan pendapatan sebesar Rp 9 triliun dengan laba bersih sebanyak Rp 1,34 triliun.
Sementara hingga akhir September 2009, pendapatan perseroan mencapai Rp 5,5 triliun dengan laba bersih 171 miliar. Angka ini anjlok dibandingkan triwulan III-2008, di mana pendapatan sebesar Rp 6,8 triliun dengan laba bersih Rp 1,4 triliun.
(ang/dnl)











































