Hal ini disampaikan oleh Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan saat dihubungi detikFinance Minggu (22/11/2009).
Setidaknya pada bulan Desember 2009, tercatat ada 3 BUMN yang siap IPO. Mereka diantaranya PT Bank Tabungan Negara (BTN), PT Pelat Timah Nusantara (Latinusa), dan PT Pembangunan Perumahan (PP). BTN dan Latinusa sudah melakukan paparan publik pada minggu ini, dan keduanya percaya diri bahwa IPO yang dijalankan, akan 100% terserap oleh pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, hot money yang ada di pasar modal, dapat masuk ke tiap lembar saham BUMN, dan nantinya dapat dimanfaatkan perseroan guna menambah modal kerja. "Saham baru terserap oleh hot money yang ada. Dana hasil IPO bisa dibuat tambah Capex (Capital Expenditure), dan terpakai untuk pembangunan di sektor swasta," ujarnya.
Ditambahkannya, divestasi atas saham memang sebaiknya diperuntukkan untuk masyarakat kecil menengah. Hingga terjadi pemerataan ekonomi. Dan investor asing pun harusnya dibatasi, dalam penyerapan IPO saham-saham baru.
Ichsan mencontohkan apa yang terjadi di Rusia zaman pemerintahan Borris Yelsin. Masyarakat kecil diberi kupon, dan diwajibkan untuk menukarkannya ke saham. Dalam jangka waktu 2 tahun, saham tidak boleh dicairkan. Saat harga saham naik, barulah saham bisa dijual.
"Ini kan akan menguntungkan masyarakat. Terjadi pemerataan. Sehingga modal sebagai asset default untuk land reform. Aset ini di-refreshing untuk kepentingan rakyat," tambahnya.
Secara pribadi, Ichsan sangat senang dengan semakin banyaknya privatisasi yang ditujukan bagi masyarakat. Kedepan ia juga berharap tidak hanya BUMN yang melakukan listing di bursa saham, tapi juga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
"Bagi BUMD yang sudah maju, dengan kondisi finansial yang baik bisa melakukan divestasi, seperti BUMN. Seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD), bisa ikuti langkah BUMN-BUMN ini," papar Ichsan.
Sebelumnya, beberapa BUMN menyatakan optimismenya dengan IPO yang akan berlangsung. Direktur Latinusa Ardhiman TA memasang target pendapatan sebesar Rp 1,8 triliun di tahun 2010. Target laba bersih sebesar Rp 90 miliar. Perseroan juga telah merencanakan penambahan kapasitas produksi menjadi 160 ribu ton yang ditargetkan operasi pada 2012. "Investasinya sekitar US$ 23 juta. Sebagian dana akan diperoleh dari hasil IPO," ujarnya.
Optimisme serupa juga tergambar dari lontaran Direktur Treasury BTN, Saut Pardede, saat paparan publik perseroan yang lalu. Rasio Kecukupan Modal (CAR) BTN ditargetkan mencapai level 27 %, setelah proses IPO usai. "CAR kita saat ini ada diposisi 15,04 % setelah IPO nanti CAR kita akan bertambah hingga 27 %. Itu jika IPO minimal menghasilkan dana Rp 2 triliun," ujar Saut.
Tahun 2010 BTN menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20%. Saut mengatakan BTN mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi dalam 3 tahun terkahir. "Posisi kredit BTN mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 33,1 %," katanya.
Optimisme para direksi BUMN, menggambarkan harapan yang positif dari proses IPO yang akan berlangsung. Semua akan terserap pasar, dan kinerja perseroan pada masing-masing BUMN pun akan lebih baik ke depan.
(hen/hen)











































