Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata menjelaskan, rupiah hingga akhir tahun 2009 diprediksi secara rata-rata mencapai 9.600 per dolar AS. Sementar apada tahun 2010 diprediksi mencapai 9.750 per dolar AS.
"Rupiah akan melemah pada 2010 karena tekanan impor dan kemungkinan naiknya suku bunga acuan AS pada tahun depan," jelas Anton dalam laporan 'Economic & Market Research' yang dikutip detikFinance, Senin (23/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dolar AS tercatat melemah terhadap mata uang utama dunia (Inggris, Eropa, Swiss, Jepang, Kanada, dan Swedia) sebesar 1,42% (indeks Dolar AS) dan 0,82% terhadap mata uang negara-negara di Asia (China, Hongkong, India, Indonesia, Korea, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Thailand).
"Hal yang menarik dengan menguatnya Rupiah akhir-akhir ini, ternyata pergerakan Rupiah relatif stabil dibandingkan bulan yang lalu," jelas Anton.
Ia menjelaskan, statistik koefiisen variasi menunjukkan penurunan menjadi 0,78% dibandingkan bulan Oktober yang lebih berfluktuatif, yang besarnya 0,97%.
Dengan melihat pergerakan mata uang di Asia seperti Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand selama November, ternyata mata uang negara tersebut relatif lebih stabil dibandingkan dengan Rupiah, kecuali Filipina. Statistik koefiisien variasi mata uang Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand berturut-berturut sebesar 0,70%, 0,89%, 0,405%, dan 0,30%, sedangkan Indonesia sebesar 0,78%.
"Melihat kondisi ini, maka bukanlah tidak mungkin, suatu saat tekanan terhadap Rupiah akan terjadi karena kurang stabilnya pergerakan Rupiah. Sumber utama yang harus diwaspadai adalah tren investasi portofolio yang terus meningkat akhir-akhir ini karena sumber dana ini bersifat jangka pendek," urai Anton.
(qom/qom)











































