Penerbitan Obligasi Asia Tembus US$ 4 Triliun

Penerbitan Obligasi Asia Tembus US$ 4 Triliun

- detikFinance
Selasa, 24 Nov 2009 10:59 WIB
Penerbitan Obligasi Asia Tembus US$ 4 Triliun
Jakarta - Nilai utang berjalan (outstanding) obligasi bermata uang lokal di kawasan Asia Tenggara beserta Cina, Hong Kong dan Jepang mencapai US$ 4,2 triliun per akhir September 2009, naik 14,8% dari periode yang sama tahun 2008.

"Peningkatan nilai outstanding obligasi hingga menembus US$ 4 triliun merupakan hasil dari upaya keras pemerintah dan regulator masing-masing negara dalam keterbukaan pasar dengan membangun pasar utang tingkat regional," ujar Kepala Ekonomis Asian Development Bank (ADB), Jong Wha Lee dalam rilisnya, Selasa (24/11/2009).

Menurutnya, pemerintahan setempat dianjurkan melanjutkan upaya pembentukan keterbukaan pasar lebih luas lagi. Berdasarkan laporan ADB, China, Hong Kong, Indonesia, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam menguasai pangsa pasar sebesar 6% dari seluruh pasar obligasi global, naik dari posisi tahun 1996 sebesar 2%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meskipun masih di bawah Jepang sebesar 17% dan AS sebesar 42%," ujarnya.

Pertumbuhan pasar obligasi Asia di luar Cina, lanjutnya, jauh lebih kuat. Dengan mengecualikan Cina, pasar obligasi Asia lebih besar 16% dari posisi akhir September 2008. Pertumbuhan obligasi di Cina tumbuh moderat 13,9% dibanding triwulan III-2008.

"Pertumbuhan tertinggi di kawasan tersebut adalah di Hong Hong yang mencapai 39% dibanding tahun sebelumnya. Pasar obligasi Indonesia naik 18,1%, sedangkan Singapura tumbuh 17,3%," ujarnya.

Untuk obligasi pemerintah, pertumbuhan tercepat terjadi di Cina, Hong Kong dan Korea. Sementara obligasi korporasi tumbuh tercepat di Vietnam, Indonesia dan Cina.

Kendati demikian, Jong mengingatkan kalau pertumbuhan tersebut mesti diperhatikan lebih jauh. Menurutnya, pemulihan ekonomi global bisa berdampak pada pertumbuhan tersebut.

"Risiko yang ada adalah ketidakpastian pemulihan ekonomi global, tekanan inflasi, kebijakan pengetatan moneter atau fiskal yang prematur serta potensi terjadinya volatilitas arus modal," ujarnya.

Jong mengatakan, masih banyak pekerjaan rumah yang dilakukan untuk menjaga likuiditas di pasar obligasi lokal, terutama di saat pemulihan ekonomi global terjadi yang bisa menyebabkan terjadinya hal-hal seperti yang ia jelaskan di atas.

"Jelas sekali kalau kawasan membutuhkan basis investor yang lebih luas, infrastruktur pasar yang lebih kokoh dan tatanan regulasi yang tepat agar pasar obligasi dapat memainkan peranan maksimal di masing-masing kawasan," jelasnya.
(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads