Medco Prediksikan Produksi Minyak Turun ke 35.000 Bph

Medco Prediksikan Produksi Minyak Turun ke 35.000 Bph

- detikFinance
Kamis, 26 Nov 2009 09:52 WIB
Medco Prediksikan Produksi Minyak Turun ke 35.000 Bph
Jakarta - Produksi minyak mentah PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) di tahun 2010, diprediksi akan berkurang. Saat ini, produksi minyak Medco 40 ribu barel per hari (bph), dan akan menyusut di tahun depan menjadi 35 ribu barel per hari. Namun, perseroan berhasil menambah pasokan produksi gas, dengan beroperasinya sumur yang ada di Lematang.

Menurut Investor Relation PT Medco Energi Intertional Tbk. A. Nugraha Adi, penurunan produksi minyak mentah didasarkan atas susutnya sejumlah sumur-sumur lama yang dimiliki perseroan. Ini ditambah, masih belum adanya sumur baru yang siap diekspoitasi.

"Penurunan produksi minyak sudah mulai terjadi di tahun ini. Dan kami memperkirakan jumlah ini akan terus berkurang dan 2010 menjadi 35 ribu barel per hari," kata Nugraha seusai seminar outlook ekonomi dan tantangan industri tambang di hotel Sultan Jakarta Rabu (25/11/2009) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, produksi gas alam justru terjadi penambahan di tahun depan, dengan mulai beroperasinya sumber Lematang. Diperkirakan terjadi penambahan produksi gas sebesar 37 juta kubik per hari, bagi perseroan di 2010.

"Walaupun produksi minyak turun dan berpotensi harganya akan meningkat, namuan perseroan memiliki sumur gas baru di Lematang. Potensi pertambahan produksi gas, mencapai 37 juta kubik per hari," ujarnya.

Menurut Nugraha, sumur Lematang mulai beroperasi mulai semester I 2010, dengan durasi kontrak awal 3 tahun kedepan. "Kontrak 3 tahun ini, dapat diperpanjang dan ditentukan kemudian," jelasnya.

Pada 2010, perseroan juga telah siap memulai 3 proyek baru ekploitasi gas. Namun mereka masih menunggu ijin dari pemerintah pusat, melalui Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas). Sayangnya, dirinya tidak menyebut dimana tepatnya ketiga proyek itu berada.

"Kita sedang tunggu ijin pemerintah pusat untuk 3 proyek baru itu. Blok A-nya belum approval JSA dari BP Migas,"Β  papar Nugraha.

Dia pun berharap, pemerintah pusat agar lebih membuka kesempatan bagi operator untuk membuka sumur gas baru. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapatkan modal baru, melalui pinjaman jangka panjang akan semakin besar. Tentu ini akan memberi dampak baik bagi industri Migas di Indonesia.

Jika sumur gas bertambah, dengan usia ekspoitasi lebih dari 5 tahun, maka untuk meraih pinjaman jangka panjang akan lebih mudah.

"Semakin mudah tentunya untuk mendapatkan pinjaman berjangka panjang, karena jaminannya adalah sumur-sumur yang masih beroperasi lebih dari 5 tahun," imbuhnya.

"Tahun depan, semoga kebijakan di sektor Migas dapat lebih baik. Dengan ini, kita akan lebih banyak membuka sumur gas baru," pungkas Nugraha.


(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads