Β
Bursa Asia pada Jumat (27/11/2009) lalu ditutup merosot tajam. Bursa Wall Street yang hanya buka setengah hari pada Jumat lalu juga mengalami koreksi tajam meski selanjutnya sedikit pulih. Bursa Indonesia selamat karena masih libur perdagangan.
Sementara nilai tukar dolar AS menguat tajam karena investor berbondong-bondong mencari tempat investasi yang aman, dalam hal ini dolar AS. Padahal sebelumnya dolar AS mendapatkan tekanan karena investor terus melepas dolar AS dan memburu aset yang berisiko tinggi namun berimbal hasil besar dalam kondisi perekonomian yang stabil.Β
Euro melemah ke 1,4959 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,5019 dolar. Sementara dolar AS juga menguat atas yen ke 86,72 yen, dibandingkan sebelumnya di 86,59 yen. Pada perdagangan di Asia, dolar AS sempat merosot ke 84,82 yen, terendah sejak Juli 1995.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini terutama dipicu oleh kabar dari Dubai yang telah memberikan dampak besar pada risk appetite dan menghasilkan dolar yang menguat tajam," jelas Daniel Major, analis logam dari RBS Global Banking & Markets seperti dikutip dari AFP.
Bursa Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah diyakini tidak akan luput dari efek gagal bayar Dubai World pada awal pekan ini. Para analis memperkirakan rupiah dan IHSG akan mengalami tekanan jual pada awal pekan ini. Namun efek tersebut diyakini tidak akan berlangsung lama.
"Pasar tentu akan merespons dan terjadi koreksi. Akan banyak investor yang akan menjual saham, khususnya bagi mereka yang memiliki porsi margin besar. Mudah-mudahan koreksi masih di kisaran 2.200," ujar analis pasar modal Haryajid Ramelan.
Hal senada disampaikan Ekonom Standart Chartered Fauzi Ichsan. Selain pasar saham, yang akan terkena dampaknya tentu saja pasar obligasi dalam negeri. Untuk sementara, investor asing akan membawa dana mereka ke dollar AS, dan menunggu penanganan kasus Dubai World dalam sepekan mendatang.
"Jika tidak ada pemberitaan yang mengejutkan lagi terkait Dubai World, maka dampak negatif ini hanya bersifat temporary. Jika ternyata ada kasus terkait, bisa saja ini awal mula krisis global jilid II," tambah Fauzi.
Chief Economist Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, Indonesia diyakini tidak akan terkena pengaruh yang besar dari gagal bayarnya Dubai World.
"Saya pikir tidak ada karena selama ini kita melihat waktu mereka masuk ke sini kita tidak melihat ekonominya naik gara-gara mereka masuk. Jadi ada faktor lain yang lebih signifikan dibandingkan hal itu, yaitu ketika BI menurunkan suku bunga pada bulan Desember 2008 yang lalu sampai sekarang berada di level yang rendah. Kalau bunga bisa bertahan seperti sekarang, rasanya ekonomi bisa lari terus," urainya.
"Cuma tetap saja jangka pendek ada reaksi negatif di pasar maupun rupiah walaupun tidak sampai hancur melemah sampai di atas Rp 10 ribu per dolar AS, paling fluktuasi di Rp 9.500 per dolar AS," imbuh Purbaya.
Sementara Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto justru mengkhawatirkan gagal bayar obligasi yang dihadapi oleh Dubai World mengganggu prospek pembiayaan pemerintah lewat penerbitan sukuk atau SBSN (Surat Berharga Syariah Negara), karena Dubai World merupakan penerbit suku terbesar di dunia.
"Dampak gagal bayar (Dubai) terhadap Indonesia adalah prospek sukuk. Nakheel, property unit dari Dubai World group selama ini penerbit sukuk terbesar. Ini akan menambah daftar default sukuk yang sudah terjadi Kuwait dan AS," tuturnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Dubai secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo. Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.
Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.
Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.
Keputusan itu telah menimbulkan guncangan di pasar finansial berbagai belahan dunia. Bursa Eropa dan Asia hari ini harus kocar-kacir karena investor khawatir gagal bayar Dubai World akan berimbas ke berbagai belahan dunia.
Gagal bayar utang obligasi tersebut kini menyeret sejumlah bank. Sejumlah nama bank-bank besar dari Jepang dikabarkan memiliki eksposure atas surat utang Dubai World tersebut.
Mitsubishi UFJ Financial dan Sumitomo Mitsui dikabarkan menjadi anggota konsorsium 11 investor yang memberikan pinjaman ke Dubai World.
(qom/qom)











































