"Antam tengah menjajaki kemungkinan pengembangan proyek ini dengan mitra internasional yang baru," ujar Direktur Utama Antam, Alwinsyah Loebis dalam Rapat dengar pendapat dengan komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/11/2009).
Seperti diketahui, pada tanggal 13 November 2008, Antam mengumumkan perusahaan telah menerima pemberitahuan dari BHP Biliton untuk mengakhiri conditional agreement dalam kerjasama pengembangan sumber daya nikel laterit di wilayah Buli.
Pengakhiran ini disebabkan karena berdasarkan kajian yang dilakukan BHP Biliton, bisnis tersebut kurang memiliki prospek serta belum diperolehnya persetujuan Kontrak Karya pada tanggal 31 Oktober 2008. Persetujuan Kontrak Karya ini merupakan salah satu persyaratan diteruskannya perjanjian usaha patungan antara Antam dengan BHP Biliton.
Alwin memaparkan, manajemen Antam sebelumnya sudah mengantisipasi kemungkinan terminasi ini dengan menyusun contingency plan berupa pengembangan sumber daya nikel dengan menggunakan teknologi pirometalurgi.
Teknologi pirometalurgi saat ini tengah digunakan Antam untuk memproduksi feronikel di tiga pabrik feronikel yang dimiliki di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
"Saat ini pengembangan sumber daya nikel laterit di Buli masih berlangsung dengan adanya rencana pembangunan proyek FeNi Halmahera," ungkap Alwin.
(epi/dnl)











































