Bursa Dubai, Abu Dhabi dan Qatar Masih Rontok

Bursa Dubai, Abu Dhabi dan Qatar Masih Rontok

- detikFinance
Selasa, 01 Des 2009 14:37 WIB
Bursa Dubai, Abu Dhabi dan Qatar Masih Rontok
Dubai - Bursa Dubai dan Abu Dhabi masih merosot meski Dubai World sudah menyatakan akan merestrukturisasi utangnya senilai US$ 26 miliar. Sementara bursa Qatar yang baru memulai perdagangannya juga merosot hingga 9 persen.

Seperti dikutip dari AFP, pada perdagangan Selasa (1/12/2009), indeks saham di Bursa Dubai dibuka merosot hingga 121,33 poin (6,25%) ke level 1.819,33. Sementara indeks di Bursa Abu Dhabi merosot 157,68 poin (5,91%) ke level 2.510,55.

Sejak dibuka perdagangannya setelah libur panjang Idul Adha, dua bursa di Uni Emirat Arab ini terus merosot pasca Dubai World mengumumkan penundaan pembayaran surat utangnya yang jatuh tempo. Dalam 2 hari, indeks Dubai merosot 13%, sementara Abu Dhabi merosot 14%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bursa Qatar yang baru memulai perdagangannya pada hari ini juga langsung merosot hingga 9%.

Seperti diketahui, Uni Emirat Arab memiliki tujuh wilayah yang dinamakan emirat yakni Dubai, Abu Dhabi, Sharjah, Ajman, Umm al-Quwain, Ras al-Khaimah, dan Fujairah.

Pemerintah Dubai pada akhir pekan lalu secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo.

Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.

Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.

Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.

Investor masih cemas karena pejabat Departemen Keuangan dalam wawancaranya di televisi menyatakan pemerintah tidak menjamin utang sebesar US$ 59 miliar milik Dubai World. Investor juga masih mempertanyakan rencana restrukturisasi US$ 26 miliar yang diumumkan Dubai World.



(qom/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads