ATPK Resources Bidik Produksi Batubara 1,23 Juta Ton

ATPK Resources Bidik Produksi Batubara 1,23 Juta Ton

- detikFinance
Selasa, 01 Des 2009 16:30 WIB
ATPK Resources Bidik Produksi Batubara 1,23 Juta Ton
Jakarta - PT ATPK Resources Tbk (ATPK) menargetkan produksi batu bara sebanyak 1,23 juta ton di 2010. Produksi akan dikontribusikan oleh dua anak usaha perseroan, PT Sarana Mandiri Utama (SMU) sebanyak 240 ribu ton dan PT Mega Alam Sejahtera (Mega) 990 ribu ton.

Demikian disampaikan Direktur Keuangan ATPK, Socrates Rudy Sirait di hotel Sultan Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Selasa (1/12/2009).

Ia menjelaskan, jumlah produksi perseroan merupakan hasil akumulasi pertambangan anak usaha ATPK di wilayah Kalimantan Selatan. Produksi SMU berjumlah 240 ribu ton, yang diperhitungkan dari 4 bulan produksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkiraan produksi batu bara SMU baru di mulai pada Agustus 2010. Untuk tiap bulannya, rencana produksi 60 ribu ton, hingga total sampai akhir tahun 240 ribu ton," kata Socrates.

Ditambahkannya, untuk Mega perkiraan produksi mencapai 990 ribu metric ton. Hingga secara akumulasi, target perseroan untuk tambang batu bara sebesar 1,23 juta metric ton.

"Volume produksi di tahun depan sebesar 1,23 juta metric ton, atau jika dinomimalkan sejumlah US$ 26.458.500," terangnya.

Ia mengatakan, untuk tahun 2011 perseroan juga telah memperkirakan volume produksinya, yang mencapai 2,44 juta ton. Ini setara dengan US$ 51 juta.

"Di tahun-tahun mendatang, pasti berproduksi. Dan akumilasi di 2011 bisa mencapai 2,44 juta ton," paparnya.

Perseroan juga mengumumkan, bahwa ATPK akan melakukan penjualan (divestasi) atas anak usaha mereka yang kurang produktif. Tercatat ada satu anak usaha tambang batu bara dan dua nikel yang siap ditawarkan kepada investor.

"Kami memang berencana divestasi tambang batu bara dan dua nikel. Namun kami masih melihat mana yang menguntungkan. Jika tidak, tidak kami jual. Kami tidak buru-buru," imbuhnya.

Menurutnya, pembicaraan dengan investor masih dilakukan. Ini termasuk rencana divestasi dan investasi serta kerja sama di colt trading ataupun join operation.

Tambang batu bara yang berlokasi di Lampung, dianggap perseroan tidak layak dalam jumlah produksi. Hal ini lah yang menyebabkan, ATPK akan melakukan divestasi. "Yang di Lampung masih berproduksi sebenarnya. Namun tidak sesuai dengan target perseroan," tambahnya.

Untuk dua anak usaha pertambangan nikel, ATPK menganggap nilai ekonomisnya telah habis, pada eksplorasi tahap awal.Β  Jika ingin tetap berproduksi, perseroan harus melakukan eksplorasi lanjutan. Tentu dengan konsekuensi biaya tambahan yang besar.

"Kami putuskan untuk berhenti produksi untuk tambang nikel yang ada di Sulewesi Tenggara ini.Kami ingin berkonsentrasi pada tambang batu bara ke depannya,"pungkasnya.

(dro/dro)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads