Demikian dijelaskan pada paparan dalam acara Investor Summit di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Kamis (3/12/2009) malam.
Untuk pengembangan tambang timah hitam (lead) dan seng (zinc), BUMI menyiapkan dana sebesar US$ 211 juta pada Herald Resources Ltd, anak usaha BUMI dengan kepemilikan 99% melalui Calipso Investment Pte Ltd.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek Dairi hingga saat ini belum beroperasi lantaran belum dapat izin dari departemen kehutanan dan masih dalam tahap eksplorasi. Melalui investasi ini, BUMI menargetkan peningkatan EBITDA sebesar US$ 150 juta per tahun setelah beroperasi di 2011.
Untuk pengembangan tambang emas dan tembaga yang dimiliki BUMI di kawasan Gorontalo dan Citra Palu, investasi yang dipersiapkan sebesar US$ 500 juta. Menurut Dileep, sertifikasi JORC dijadwalkan diperolehΒ pada 2011 dan beroperasipada 2013. Melalui investasi ini, BUMI menargetan peningkatan EBITDA sebesar US$ 900 juta per tahun.
BUMI juga tengah menggarap proyek tambang bijih besi di Mauritania. Investasi yang disiapkan sebesar US$ 300 juta. Proyek ini juga dijadwaka beroperasi pada 2013. Peeningkatan EBITDA yang ditargetkan dari proyek ini sebesar US$ 250 juta per tahun.
Dan, untuk pengembangan tambang batubara terbaru perseroan, yaitu PT Fajar Bumi Sakti dan PT Pendopo Energi Batubara, BUMI menyiapkan investasi sebesar US$ 150 juta.
Kedua tambang ini dijadwalkan beroperasi mulai 2010 hingga 2012. Peningkatan EBITDA yang ditargetkan BUMI mencapai US$ 100 juta per tahun dari 2 perusahaan tambang ini.
Selain 4 proyek tersebut, KPC dan Arutmin juga melakukan investasi sebesar US$ 1,1 miliar untuk peningkatan kapasitas produksi batubara hingga 100 juta ton lebih. Menurut SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava, pendanaan investasi ini berasal dari arus kas internal dua anak usaha tersebut.
"Dana ini tidak disediakan oleh BUMI," jelas Dileep.
Melalui investasi pengembangan kapasitas produksi batubara di dua usaha yang menjadi sumber pendapatan utama BUMI ini, perseroan menargetkan peningkatan laba sebelum bunga, pajak, demortisasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 800 juta per tahun.
Jika skema ini berhasil, maka produksi batubara BUMI akan meningkat lebih dari 200% dalam waktu kurang dari 9 tahun atau meningkat hampir 50% dalam waktu kurang dari 4 tahun.
Saat BUMI mengakuisisi KPC dan Arutmin pada tahun 2003, produksi batubara masih sebesar 30 juta ton per tahun. Pada tahun 2008, produksi batubara BUMI sebanyak 50 juta ton lebih.
Total nilai investasi BUMI beserta anak usahanya untuk pengembangan organik secara masif ini mencapai US$ 2,261 miliar. Kendati demikian, peningkatan EBITDA yang akan dperoleh BUMI setelah semua beroperasi akan mencapai US$ 2,2 miliar per tahun.
Mengenai pendanaan investasi maha besar ini, sebagaimana dikatakan Dileep, akan menggunakan kombinasi kas internal dan berbagai skema pendanaan eksternal yang telah dilakukan.
Sejak Agustus hingga November 2009, BUMI telah meraih pendanaan eksternal sebesar US$ 3,175 miliar, terdiri dari pinjaman dari China Investment Corporation (CIC) sebesar US$ 1,9 miliar, dua obligasi konversi US$ 675 juta, penerbitan surat utang (obligasi) yang dijamin US$ 300 juta dan fasilitas pinjaman dari Credit Suisse sebesar US$ 300 juta.
Sebagian besar pendanaan tersebut akan digunakan untuk pembiayaan kembali utang (refinancing) sebesar US$ 1,3 miliar, investasi dan akuisisi US$ 1,269 miliar, equity swap US$ 240 juta. Sisanya untuk modal kerja dan biaya-biaya lainnya.
"Fasilitas CIC mulai dicicil pada 2013. Dengan adanya refinancing tersebut, BUMI kini memiliki dana segar US$ 1 miliar yang dapat digunakan untuk proyek Gorontalo, Mauritania, Herald dan sebagainya," ujar SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava.
Selain itu, BUMI masih memiliki dana investasi dan akuisisi sebesar US$ 1,269 miliar yang diperoleh dari berbagai skema pendanaan ekternal di atas. Menurut Dileep, dana tersebut akan digunakan pada berbagai peluang investasi yang sedang diincar BUMI.
"Penerbitan obligasi dan obligasi konversi dilakukan untuk berbagai peluang merger dan akuisisi serta investasi seperti pendanaan akuisisi NNT (PT Newmont Nusa Tenggara)," ujar Dileep.
Sebagaimana diketahui, BUMI melalui anak usahanya PT Multi Capital ikutan bergabung dalam konsorsium pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat untuk mengambil alih 24% saham divestasi NNT.
Beberapa waktu lalu, BUMI telah menyetor US$ 391 juta untuk pembayaran 10% divestasi NNT tahun 2006-2007. Pada Desember 2009, BUMI akan segera membayarkan US$ 493 juta untuk mengakuisisi 14% divestasi NNT periode 2008-2009.
(dro/qom)











































