Demikian disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI) Wan Wei Yong di Hotel Best Western Solo Jawa Tengah seusai Workshop Wartawan Pasar Modal Sabtu (12/12/2009).
"Dalam tiga tahun mendatang kami telah siap dengan Rp 100 miliar guna pengembangan IT, baik STP ataupun peningkatan data Warehouse, termasuk sistem JATS Next-G," kata Wei Yong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber pendanaan ini seluruhnya didapatkan dari internal BEI. Perusahaan Efek (PE) yang terdaftar di BEI, tidak menyetorkan dana apapun guna peningkatan kemampuan TI otoritas pasar modal ini.
"Ini dari dana Bursa, tidak ada sumbangan dari anggota bursa (AB). Jika ada pengembangan IT pada AB yang bersangkutan maka itu menjadi urusan mereka," paparnya.
Lanjutnya, saat ini BEI memiliki total empat mesin perdagangan. Ini sudah termasuk satu mesin cadangan, guna memperlancar aktivitas pasar modal. Dua mesin terdapat di gedung utama BEI yang terdiri dari satu mesin perdangan utama, dan satu lagi sebagai mesin back up.
Dua mesin perdagangan lain difungsikan kala terjadi keadaan yang di luar kontrol, seperti bencana, atau gangguan teknis. "Dua mesin lagi merupakan Disaster Recovery Center atau DRC. Ini ditempatkan di luar gedung utama. Jika terjadi bencana gempa bumi misalkan, maka perdagangan tetap dapat berjalan," imbuhnya. (hen/hen)











































