"Capex kami anggarkan US$ 84 juta, yang bersumber dari pinjaman sindikasi bank dan kas internal," kata Direktur Keuangan FASW Hadi R Ongkowidjojo dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (14/12/2009).
Belanja modal sebanyak US$ 75 juta didapatkan dari fasilitas kredit sindikasi berjangka HSBC, United Overseas Bank Limited (UOB), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) cabang Singapura. Sisanya, US$ 10 berasal dari kas internal. Tenor kredit dipatok berjangka lima tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini saja, kapasitas produksi 700 ribu ton. Sampai akhir tahun, bisa mencapai 710 ribu ton, dan pada tahun depan diharapkan bisa mencapai 720 ribu ton," ujarnya.
Ditambahkan Hadi, peningkatan produksi perseroan, didukung oleh penambahan mesin baru dengan kapasitas 300 ribu ton. Hingga pada 2011 total produksi FASW bisa mencapai 1 juta ton.
Lanjutnya, produksi yang bertambah, juga diiringi oleh kenaikan penjualan di tahun depan yang mencapai 10%, atau mencapai Rp 3 triliun. Sampai akhir tahun ini, perseroan memperkirakan penjualan mencapai Rp 2,7 triliun.
Ia menjelaskan, sampai September 2009 FASW membukukan penjualan sebesar Rp 2,01 triliun atau turun 17,3 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 2,43 triliun. Meski demikian, laba bersih mereka justru mengalami peningkatan 3,4 % menjadi Rp 177 miliar, dibandingkan tahun lalu Rp 172 miliar.
"Ini disebabkan oleh penurunan harga kertas pada kuartal akhir 2008 yang terasa hingga kuartal pertama 2009, tapi sekarang sudah membaik. Bahkan harga lebih baik dari tahun lalu yang mendekati harga tertinggi seperti tahun 2008," imbuhnya.
(wep/dro)











































