"Price Earning Ratio saham kita sekarang 13,5 kali, sehingga diprediksi IHSG akan mencapai 2.767 dan fund flow akan tetap kuat masuk di negara emerging markets kawasan Asia seperti di Indonesia," ujar Head Of Equity Research Mandiri Sekuritas, Ari Pitoyo dalam outlook ekonomi 2010 di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (15/12/2009).
Ia memaparkan, aspek-aspek positif seperti kenaikan rating Moody's ke BB, sudah tercermin dari penurunan CDS (Credit Default Swap ) ke level 172 dari 213 di awal bulan Agustus 2009.
"Selain itu penurunan yield obligasi kemungkinan masih bisa berlanjut jika terjadi foreign fund flows dalam jumlah yang cukup besar. Ditambah US Treasury yield masih cukup rendah sehingga yield rupiah masih lebih menarik khususnya dalam jangka panjang," paparnya.
Ari mengatakan saham-saham sektor konsumsi, semen, energi, perkebunan, minyak, dan batubara masih akan baik di tahun depan. "Karena sektor konsumsi berpotensi meningkat seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat," tuturnya.
Ari menambahkan, rencana pemerintah untuk merevisi undang-undang pertanahan mengenai izin pembebasan lahan pada awal 2010 akan memberikan sentimen positif bagi sektor semen dan konstruksi.
Pasar Surat Utang Negara (SUN)
Ari juga menjelaskan mengenai pertumbuhan dana Surat Utang Negara (SUN) di 2010. "Kami perkirakan yield SUN tenor 10 tahun akan berada di kisaran 10,1% atau antara 9,7%-10,7% di akhir tahun 2009, dan naik ke 10,5% atau antara 9,9%-11% di akhir tahun 2010," jelasnya.
Total return berinvestasi di SUN, sambung Ari, kemungkinan akan lebih rendah di tahun 2010 atau hanya mencapai 12% dibandingkan target akhir 2009 yang mencapai 21%.
Di tempat yang sama Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti mengatakan hal yang perlu diperhatikan yakni refinancing risk 2010, atau utang pemerintah dari
kepemilikan SUN yang jatuh tempo terbesarnya ada di 2010.
Jumlahnya bahkan mencapai Rp 64,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat dari Rp 25,1 triliun, jumlah utang SUN yang harus dibayar pada 2009.
Karenanya, kata dia, pemerintah sedang mengusahakan untuk menggeser jatuh temponya."Tapi investor masih lebih suka yang jangka pendek. Sebab pasar masih emergency ," katanya.
Tiap kuartalnya, lanjut Destry profil jatuh tempo obligasi pemerintah, utang yang harus dibayar di kuartal pertama 2010 adalah jumlah terbanyak yakni mencapai Rp 33,5 triliun.
(dru/dnl)











































