Menurut Direktur Utama ENRG Iman P. Agustino, dengan telah ditandatanganinya penjanjian akuisisi 10% working interest di blok Masela PSC milik INPEX Masela Ltd, maka ENRG harus menyediakan investasi masing-masing US$ 300 juta untuk sektor upstream dan US$ 600 juta guna floating LNG.
"Jika blok Masela 100 % workspace maka belanja modal yang harus dianggarkan US$ 3-3,5 miliar untuk produksi upstream. Dan untuk floating LNG sekitar US$ 6 miliar. Karena kita memiliki porsi 10%, maka kita hanya siapkan US$ 900 juta, dari total kebutuhan yaitu sebesar US$ 9 miliar," ujar Iman dalam paparan publik perseroan di hotel Dharmawangsa Jalan Brawijaya Jakarta (15/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjutnya, cara pembiayaan floating LNG hampir sama dengan blok-blok lain yang ada di Indonesia, seperti Bontan dan lainnya. Untuk belanja modal blok Masela PSC, akan terus dianggarkan sampai 2016, seiring dimulainya produksi.
Iman kembali menegaskan, ENRG masih berkemungkinan untuk menambah porsi kepemilikan di blok Masela PSC, yang saat ini baru 10%. "Kemungkinan itu bisa saja, selama menguntungkan bagi stakeholder perseroan," papar Iman.
Untuk akuisisi blok migas di luar kepemilikan INPEX Masela Ltd., jika ada penawaran yang menarik, perseroan tetap akan mengkajinya. Namun, dirinya lebih menyukai blok-blok tersebut berada di sekitar blok lama ENRG yang sudah beroperasi, seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawasi dan Sumatera.
"Kita pasti akan tertarik, terlebih blok itu dekat operasi milik perseroan di Sumatera. Namun kita review dulu. Untuk blok milik Medco, kalau bisa. Tapi nanti kita lihat lagi," imbuhnya.
Dengan penambahan blok Masela PSC, maka diprediksi cadangan 2P net WI perseroan akan meningkat 2,5 kali dari 224 milion barel of equivalen (mmboe) menjadi 565 mmboe. Produksi harian bersihpun akan naik 3,8 kali menjadi 74 mboepd dengan bertambahnya produksi dari Masela di tahun 2016. Sampai semester I tahun ini, produksi harian ENRG terpantau baru 19 mboepd.
(wep/dro)











































