Demikian disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/12/2009).
Hingga 30 September 2009, posisi utang perseroan sebesar Rp 114,235 miliar. Utang tersebut berasal dari utang valuta asing senilai US$ 11,8 juta. Utang yang diberikan oleh First Property Investment (FPI) dan Royal Investment Holding Company Ltd (RIH) ini akan jatuh tempo mulai 26 Desember 2009 hingga 31 Mei 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RIH memberikan pinjaman US$ 4 juta pada 26 Desember 2009 yang akan jatuh tempo pada 26 Desember 2009, kemudian pinjaman senilai US$ 2,8 juta pada 1 Juni 2009 yang akan jatuh tempo pada 31 Mei 2010.
Dana tersebut digunakan untuk pembiayaan proyek perseroan di Jawa Timur, akuisisi 51% saham PT Multi Bangun Sarana dan akuisisi 51% saham PT Masterin Property.
Dalam pernyataannya, perseroan menyatakan belum dapat melunasi pinjaman tersebut saat jatuh tempo nanti lantaran lahan yang diakuisisi belum memasuki tahap komersil. Oleh sebab itu, perseroan berencana melakukan konversi utang menjadi saham.
Dari utang senilai US$ 11,8 juta, disepakati konversi utang akan dilakukan pada kurs US$ 1 = Rp 9.500. Dengan demikian, total utang dalam rupiah setara dengan Rp 112,1 miliar.
Sementara jumlah saham baru tanpa HMETD yang akan diterbitkan perseroan sebanyak 1.121.000.000 saham atau setara dengan 41,2% saham perseroan. Itu berarti, harga konversi disepakati sebesar Rp 100 per saham.
Kemudian dari 41,2% saham tersebut, FPI akan memperoleh 475.000.000 saham (17,46%) senilai Rp 47,5 miliar dan RIH akan memperoleh 646.000.000 saham (23,74%) senilai Rp 64,6 miliar.
(dro/qom)











































