"Kita lihat gap antara emiten besar yang berada di first tier terlalu jauh dengan emiten second tier, salah satu cara untuk mengisi celah kesenjangan itu kita harus mendorong lebih banyak perusahaan baru mencatatkan saham di publik, terutama BUMN," kata Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Airlangga Hartarto di BEI, SCBD, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Oleh sebab itu, Airlangga yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Komisi VI DPR RI, akan membantu memberikan dorongan-dorongan kepada BUMN untuk mengubah statusnya menjadi perusahaan terbuka alias go public.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, mulai di kuartal ketiga 2009, tingkat perolehan laba di perusahaan publik sudah tumbuh positif. Namun, lanjutnya, pertumbuhan tersebut sebagian besar ditopang oleh emiten-emiten besar.
"Pasar modal kita masih tergantung pada emiten-emiten besar, sementara banyak perusahaan lain yang berpotensi besar masuk ke bursa, itu yang perlu kita dorong," katanya.
Pemerintah, pada semester pertama 2010, berencana melakukan penawaran saham ke publik untuk tiga BUMN antara lain, PT Garuda Indonesia, PT Pembangunan Perumahan (PP), dan PT Krakatau Steel (KS).Β Menurut Airlangga, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian khusus untuk BUMN sektor perkebunan. "BUMN perkebunan dapat menjadi emiten yang disukai pasar," katanya.
Sementara, Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar mengatakan dalam kesempatan yang sama, selain ketiga BUMN yang telah disebutkan sebelumnya, pemerintah juga berharap dua BUMN sektor perkebunan seperti PTPN III dan PTPN VI dapat melakukan penawaran saham umum perdana pada 2010.
(dro/ang)











































