Demikian disampaikan Direktur Keuangan perseroan Djakfarudin Junus dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Ia menjelaskan, pertumbuhan pendapatan dapat diperoleh karena meningkatnya penjualan masing-masing produk Indofarma, diantaranya obat Generik, Branded, dan OTC. Obat generik, di tahun depan diprediksi akan tumbuh menjadi Rp 540-610 miliar. Obat branded tumbuh menjadi Rp 80 miliar, dan obat OTC berada di angka Rp 30 miliar.
Selain penjualan obat kemasan, pendapatan perseroan juga ditopang oleh perolehan tender produksi obat dari Departemen Kesehatan. "Hingga sesuai RKAT (Rencana Kerja Anggaran Tahunan), pendapatan kita akan tumbuh 15-20%," kata Djakfarudin.
Hingga akhir tahun 2009, perseroan diprediksi dapat memperoleh pendapatan Rp 1,1 triliun, dengan laba kotor yang turun 13%, dari Rp 333 miliar pada periode tahun lalu, menjadi Rp 288 miliar. Laba usaha juga diperkirakan Rp 40 miliar, dengan laba bersih yang hanya Rp 1,08 miliar.
"Data November ini, pendapatan kita sudah Rp 920 miliar. Jadi untuk memperoleh Rp 1,1 triliun kami optimis bisa dicapai," kata Direktur Utama INAF P. Sudibyo.
Triwulan III 2009, INAF masih mencatatkan pendapatan Rp 449 miliar, atau turun 26% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 606 miliar. Beban pokok penjualan (HPP) juga terpantau turun 27,27% dari Rp 427,12 miliar menjadi Rp 310,64 miliar.
Laba kotor pun turun 23% menjadi Rp 138,4 miliar dari sebelumnya Rp 179,8 miliar. Hingga perseroan memperoleh rugi usaha Rp 33,97 miliar, dan rugi bersih terpantau Rp 44,62 miliar.
Prediksi pendapatan yang naik tajam tahun depan, merupakan wujud optimisme perseroan dengan perubahan pola tender oleh pemerintah. Di 2010 diharapkan tender bisa ditiadakan dan pembelian akan dibuka secara umum pada periode Januari - Desember.
Tidak seperti tahun sebelumnya, tender pemerintah melalui Departemen Kesehatan (Depkes), baru dibuka pada Oktober-November. Hal ini menjadi beban perseroan, karena untuk menyiapkan produk yang diminta Depkes, Indofarma harus meminjam dana dari perbankan. Tentu ini akan merusak neraca keuangan, dan berimbas kepada pendapatan serta laba usaha.
"Dengan program Jamkesmas, tahun depan akan terjadi efisiensi karena tidak harus tender. Bisa dilakukan pembelian secara rutin ke rumah sakit dan Puskesmas," kata Sudibyo.
(wep/dnl)











































