"Kami buat produk inovatif, yang belum ada di industri farmasi Indonesia, yaitu Rapid Diagnostic Gate dan Imuno Stimulus . Investasi sebesar Rp 105-120 miliar," ujar Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk Djakfarudin Junus dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Dalam rencana pembangunan pabrik, perseroan siap mendirikan anak usaha baru dengan mitra bisnis mereka. Indofarma akan menyediakan lahan dalam pembangunan pabrik. Sedangkan untuk biaya pembangunan, seluruhnya akan menjadi beban mitra bisnis INAF.
"Kami akan buat anak usaha, namun kami akan menjadi minoritas karena hanya menyediakan lahan," kata Direktur Utama INAF P. Sudibyo.
Total investasi atas lahan pabrik, diperkirakan sekitar Rp 15 miliar. Namun perkiraan ini akan bergerak, seiring meningkatnya nilai aset tanah. Sedangkan untuk pembangunan pabrik, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 105 miliar.
Pembangunan pabrik untuk penyediaan produk rapid diagnostic dan imuno stimulis , direncanakan mulai di semester II-2010.
"Saat ini kami sedang mencari mitra produksi. Ada beberapa yang sudah masuk, namun belum dipastikan. Kami inginkan pembangunan bisa lebih cepat dari semester II-2010. Waktu yang diperlukan sekitar enam bulan, hingga komersial produksi diharapkan dapat dimulai awal 2011," jelas Djakfarudin.
Rapid diagnostic merupakan produk preventif yang disediakan bagi konsumen. Hingga nantinya konsumen tidak perlu pergi ke rumah sakit, karena deteksi penyakit dapat dilakukan sendiri.
"Ini langkah maju, dan bisa mengefisiensikan pengeluaran pemerintah bahkan. Karena kan ini produk pencegahan," papar Direktur Produksi INAF Yuliarti Merati.
Sedangkan untuk imono stimulus , merupakan campuran ramuan beberapa bahan dasar, yang selama ini masih terpisah. "Yang sebelumnya konsumen harus meminum beberapa obat dalam satu hari, maka dengan imuno cukup satu," tambah Yuliarti.
Tahun depan, perseroan juga akan meluncurkan 40 item produk baru, dengan komposisi 17 obat generik, 14 obat branded, dan 9 produk OTC. Namun, Yuliarti tidak dapat merinci lebih lanjut varian produk baru ini. "Jangan dipublikasikan dulu. Secara ringkas saja kami sajikan," imbuhnya.
Selain 40 item produk baru, perseroan berencana memproduksi obat hepatitis, dengan harga yang jauh lebih murah. INAF sedang mengurus lisensi atas obat tersebut kepada produsen farmasi dunia, Pharos.
"Proses masih berjalan, harapannya akan launching di tahun 2010," pungkas Djakfarudin.
Saat ini INAF memiliki 350 produk generik, 40 produk branded, 20 produkΒ OTC.
(wep/dnl)











































