Saham sektor finansial juga merosot setelah analis perbankan paling berpengaruh, Meredith Whitney memangkas proyeksi pendapatannya atas Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley.
Indeks dolar AS yang merupakan indikator kinerja dolar AS atas sekumpulan mata uang naik hampir 1% atau hampir tertinggi dalam 3 bulan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dolar AS mulai sedikit menghantui pasar disini," ujar Terry Morris, senior vice president National Penn Investor Trust Company seperti dikutip dari Reuters, Jumat (18/12/2009).
Pada perdagangan Kamis (17/12/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah hingga 132,86 poin (1,27%) ke level 10.308,26. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 13,10 poin (1,18%) ke level 1.096,08 dan Nasdaq merosot 26,86 poin (1,22%) ke level 2.180,05.
Pasar juga mendapatkan sentimen negatif setelah FedEx Corp mengeluarkan laporan keuangan yang di bawah ekspektasi analis sehingga menyebabkan sahamnya merosot 6,1%.
Indeks Finansial S&P tercatat melemah 1,8%. Saham Citigroup merosot 7,3% setelah penawaran saham dan obligasinya tidak menarik banyak investor dan harganya lebih rendah dari ekspektasi. Hal itu juga memicu Depkeu AS menunda rencana untuk menjual saham Citigroup hingga 12 bulan ke depan.
Volume perdagangan cukup besar hingga 1,72 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 1,94 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.
Harga Emas dan Minyak Terkoreksi
Seiring menguatnya dolar AS, harga minyak dan emas mengalami koreksi. Kedua komoditas itu secara perlahan turun dari titik tertingginya.
Pada perdagangan di London, minyak light sweet pengiriman Januari turun 1,19 dolar menjadi US$ 71,48 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Februari turun 1,62 dolar menjadi US$ 72,67 per barel.
Sedangkan harga emas di pasar spot tercatat stabil di level US$ 1.100 per ounce setelah sebelumnya merosot hingga 2%.
(qom/qom)










































