"Century tentu masih mempengaruhi pasar. Apalagi di tengah pasar yang minim sentimen positif menjelang libur akhir tahun ini," ujar analis PT BNI Securities Muhammad Alfatih saat dihubungi detikFinance, Senin (21/12/2009).
Menurut Alfatih, kaitan langsung kisruh Bank Century dengan pasar saham memang sulit dibuktikan. Kendati demikian, ia melihat skandal Bank Century secara psikologis sangat berpeluang memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan investasi investor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sempat dikabarkan masih memiliki dana ratusan miliar di Bank Century. Manajemen TLKM pun mengakui pernah menempatkan dana di Bank Century. Hanya saja, kini semua dana tersebut sudah ditarik dan dipindahkan ke bank BUMN, sehingga saat ini TLKM tidak lagi memiliki kaitan dengan Bank Century (sekarang Bank Mutiara).
Di sisi lain, TLKM merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan jumlah saham sebanyak 20,159 miliar saham dan harga di kisaran Rp 9.500, nilai kapitalisasi pasar TLKM mencapai Rp 191,519 triliun atau hampir 10% dari kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI.
Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu, pergerakan harga saham TLKM sangat mempengaruhi level IHSG. Harga TLKM jatuh Rp 100 saja, pengaruhnya besar terhadap IHSG. Pada perdagangan sesi I tadi, TLKM jatuh Rp 550 ke Rp 9.550.
Begitu pula dengan saham PT Astra International Tbk (ASII) yang jatuh sebesar Rp 1.150 ke Rp 33.850. Koreksi tajam saham otomotif berkapitalisasi Rp 136,631 triliun ini ikut mempengaruhi level IHSG.
Jadi wajar saja IHSG jatuh 57,715 poin (2,29%) ke level 2.451,861. Kejatuhan IHSG pada sesi I hari ini merupakan penurunan terbesar di kawasan Asia.
"Secara analisis teknikal, kita bisa melihat kalau IHSG naik terlalu tinggi dalam satu tahun ini, ditambah pergerakan IHSG yang cenderung sideways selama beberapa minggu. Secara psikologis, pola ini merupakan tanda-tanda siap-siap jual," ujarnya.
Namun ia juga mengatakan kalau tekanan jual IHSG tadi pagi lebih disebabkan faktor lokal. "Indeks-indeks regional turun tidak sampai 1%. Jadi ini lebih kepada faktor lokal, baik dari luar bursa maupun dari segi analisis teknikal memang menunjukkan tanda-tanda aksi jual," ujarnya.
Investor asing pun tercatat masih melakukan pembelian bersih (net buying) sebesar Rp 340 miliar. Ini menunjukkan koreksi tajam IHSG hari ini lebih disebabkan faktor lokal ketimbang isu regional.
Kendati demikian, Alfatih optimistis kalau IHSG tetap mampu tutup buku di atas level 2.500."Masih berpeluang naik kok sebelum akhir tahun. Tutup di kisaran 2.500-2.600 masih bisa, terutama kalau ramai-ramai politik ini segera reda," ujarnya. (dro/qom)











































