Demikian disampaikan Direktur Utama UNSP Ambono Janurianto dalam paparan publik di hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (21/12/2009).
Dari total produksi kelapa sawit tersebut, perkebunan inti kelapa sawit (FFB Nucleus) sebagai penyumbang terbesar yaitu 451.171 ton per Oktober 2009 atau meningkat 6 % dibandingkan periode sama tahun lalu 425.538 ton. Produksi plasma Sawit (FFB Plasma) justru turun 4,9%, dari 169.968 ton menjadi hanya 161.610 ton. Sedangkan FFB dari perkebunan hasil join venture dengan ARBV, tercatat naik 11,9%, dari 284.143 ton menjadi 317.983 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan produksi karet tercatat turun 7,7% dari 16.977 ton menjadi 15.688 ton sampai Oktober 2009. Penurunan produksi karet disebabkan bertambahnya area tanaman tua serta tidak diimbangi dengan penambahan tanaman muda.
"Untuk Karet, Kita memang tidak replanting pada waktu itu karena harga produksi yang tinggi," ungkapnya.
Volume produksi TBS sekitar 351.396 ton per Oktober tahun ini atau turun tipis 0,4 %. Penurunan disebabkan efek siklus biologi yang menyebabkan produktifitas tanaman berkurang. Sedangkan TBS hasil akuisisi tahun 2007, produksinya naik 37,1 % dari 72.794 ke 99.775 ton.
"Kita membeli kebun dari umur TBS yang relatif muda jadi sesuai yang diinginkan, " imbuh Ambono.
Perseroan memiliki tanaman dengan usia muda sebanyak 20 ribu ha, hingga berpotensial dan tidak diperlukan aksi replanting pada waktu dekat.
"Sekitar 15 ribu ha dari inti dan 5 ribu ha dari ARBV sehingga tidak dituntut melakukan replanting," pungkas Ambono.
Sampai September 2009, UNSP mencatatkan pendapatan Rp 1,61triliun serta laba bersih Rp 238,31 miliar. Pendapatan turun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan penurunan harga jual karet dan minyak kelapa sawit.
(wep/dro)











































