Menurut Direktur dan Sekretaris Perusahaan ESTI, Erlien L. Surianto, pembangunan pembangkit listrik berbasis gas merupakan langkah strategis yang diambil perseroan guna efisiensi biaya operasional dalam menghadapi persaingan usaha di bidang tekstil dan garmen. Pembangkit berada di areal sekitar pabrik wilayah Cibinong.
"Energi adalah komponen utama dalam industri tekstil. Dengan menggunakan gas kita bisa hemat hingga Rp 1 miliar per bulan,” ujarnya kepada detikFinance melalui sambungan telepon Kamis (24/12/2009).
Dengan penghematan ini pula, perseroan optimis dapat memperoleh laba yang baik di tahun depan. Selain itu, energi gas dapat menjamin operasional pabrik tekstil ESTI dapat berlangsung dengan lancar.
Ditambahkanya, perseroan dalam menjalankan aktifitasnya, menggunakan bahan bakar solar, dengan mengandalkan aliran listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dengan berbasis solar, ESTI menderita kerugian ketika pemadaman listrik tersebut terjadi di pabrik perseroan.
“Satu bulan bisa dua sampai tiga kali pemadaman. Ketika listrik kembali menyala, peralatan membutuhkan daya yang sangat besar dan itu cukup merepotkan,” tuturnya.
Sampai akhir 2009, Erlien memprediksi dapat memcatat penjualan US$ 52 juta. Pada akhir November saja, penjualan ESTI berada di leve Rp 490,13 miliar. Namun dirinya enggan mengungkapkan target pertumbuhan yang ingin dicapai perseroan di 2010.
“Tergantung kondisi, tapi kita tetap yakin akan ada pertumbuhan terutama dengan adanya efisiensi,” jelas Erlien.
Komposisi penjualan perseroan pada akhir September 2009 terdiri atas 54% untuk pasar ekspor dan sisanya domestik. Jumlah produk tekstil yang dijual perseroan pada periode tersebut mencapai 82% dan 18% sisanya adalah produk garmen.
“Ekspor kami kebanyakan ke Eropa, utamanya Jerman. Tahun depan kami akan tetap fokus ke pasar ekspor,” tambahnya.
Pada 2010, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure / capex) sebesar US$ 3,5-4 juta guna efisiensi bahan bakar di PT Primara (anak usaha). Lanjutnya, dana sebesar itu akan diperoleh dari kombinasi kas internal, kredit supplier, dan pinjaman perbankan.
“Kita utamakan dari kas internal. Kita juga punya outstanding pinjaman bank dari Chinatrust Indonesia senilai US$ 12 juta, dan baru kita cairkan sekitar US$ 3 juta,” tambah dia.
(wep/epi)











































