Demikian disampaikan Corporate Secretary ATPK Andreas Andy Santoso dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Minggu 27/12/2009).
Raihan pendapatan ATPK sampai sembilan bulan tahun 2009 tercatat Rp 323, 242 juta atau anjlok 71,76% dibanding perdiode yang sama tahun sebelumnya, Rp 1,144 miliar. Namun demikian, terjadi penyusutan atas beban pokok pendapatan sebesar Rp 253 juta, dari posisi tahun lalu Rp 683,372 juta menjadi Rp 430,595 juta.
Laba kotor tercatat negatif Rp 107,352 juta, atau turun tajam 123,2% dibanding periode tahun sebelumnya Rp 461,59 juta. Total beban usaha pun tercatat Rp 15,58 miliar. Bandingkan pada sembilan pertama tahun 2008, sebesar Rp 18,16 miliar.
Pendapatan lain-lain sampai 30 September yang tercatat dalam revisi laporan keuangan ATPK, sebesar Rp 100,52 juta, atau turun 90,33% dari posisi tahun 2008 Rp 1,035 miliar. Rugi sebelum pajak tercatat Rp 15,59 miliar atau turun Rp 154 juta dibanding posisi tahun lalu Rp 17,13 miliar.
Setelah terpangkas oleh hak minoritas atas rugi bersih anak usaha sebesar Rp 329,08 juta, maka perseroan mencatat rugi bersih Rp 15,263 miliar atau sedikit lebih baik dari pada posisi tahun lalu Rp 15,582 miliar.
Sebelumnya, perseroan mengumumkan akan melakukan penjualan (divestasi) atas anak usaha mereka yang kurang produktif. Tercatat ada satu anak usaha tambang batu bara dan dua nikel yang siap ditawarkan kepada investor.
"Kami memang berencana divestasi tambang batu bara dan dua nikel. Namun kami masih melihat mana yang menguntungkan. Jika tidak, tidak kami jual. Kami tidak buru-buru," imbuh Direktur Keuangan ATPK, Socrates Rudy Sirait.
Menurutnya, pembicaraan dengan investor masih dilakukan. Ini termasuk rencana divestasi dan investasi serta kerja sama di colt trading ataupun join operation.
Tambang batu bara yang berlokasi di Lampung, dianggap perseroan tidak layak dalam jumlah produksi. Hal ini lah yang menyebabkan, ATPK akan melakukan divestasi. "Yang di Lampung masih berproduksi sebenarnya. Namun tidak sesuai dengan target perseroan," tambahnya.
Untuk dua anak usaha pertambangan nikel, ATPK menganggap nilai ekonomisnya telah habis, pada eksplorasi tahap awal. Jika ingin tetap berproduksi, perseroan harus melakukan eksplorasi lanjutan. Tentu dengan konsekuensi biaya tambahan yang besar.
"Kami putuskan untuk berhenti produksi untuk tambang nikel yang ada di Sulewesi Tenggara ini.Kami ingin berkonsentrasi pada tambang batu bara ke depannya,"pungkasnya.
(wep/dro)











































