Demikian disampaikan Direktur Utama ENRG Imam P. Agustino dalam konfrensi pers di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (31/12/2009).
"Net revenue kita sampai akhir tahun Rp 1,37 triliun," katanya.
Sedangkan untuk laba bersih, dirinya mengakui perseroan sedang menghitung, dan proses belum selesai. "Masih dihitung sampai hari ini," jelasnya.
Kontribusi terbesar pendapatan sampai akhir tahun, masih disumbang oleh blok Malaka sebesar 9.500 sampai 10 ribu bph.
Sampai triwulan III 2009, perseroan membukukan pendapatan Rp 1,047 triliun atau turun 23% dibanding periode yang sama tahun yang Rp Rp 1,36 triliun. Penurunan terjadi akibat terdepresiasinya harga minyak hingga 48%.
"Penjualan dan laba terkena dampak dari turunnya harga jual minyak dan beban keuangan yang cukup tinggi," ujarnya.
Selama perseroan mengadakan aktivitas operasi sampai 9 bulan pertama 2009, terjadi peningkatan produksi sebesar 30%, dengan total mencapai 13 mbopd. Harga jual minyak pada periode ini menurun dari US$112 per barel menjadi hanya US$ 57,9 per barel.
Selain pendapatan perseroan yang terkoreksi, EBITDA juga mengalami hal yang sama. EBITDA turun menjadi Rp 109 miliar, atau anjlok 79,8 % dari posisi tahun lalu, Rp 542 miliar.
Untuk tahun depan, ENRG menyatakan optimis bahwa pendapatan akan membaik. Ini terkait dengan penambahan produksi dari PEC Kalila sebesar 50 juta kaki kubik per hari (mmscfd).
"Tahun 2010 akan terjadi penambahan dari blok PEC Kalila 59 juta kaki kubik per hari. Penambahan akan terjadi pada Juli 2010," paparnya.
Sedangkan dua tahun berselang, kembali perseroan mendapat penambahan produksi dari blok Kangean sebesar 300 mmscfd. Operasi penambahan produksi gas akan terjadi di Oktober 2011.
"Produksi kami akan melonjak drastis pada 2016, dengan dimulainya operasi blok Masela yang baru saja kami akusisi. Jumlah produksi mencapai 4,5 juta ton LNG per tahun. Ini ditambah produksi kondensal lain," ungkap Iman.
Dirinya juga mengakui, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 196 juta tahun depan. Dana capex sebagian didapatkan dari penerbitan saham baru (right issue) perseroan di Januari 2010.
"Capex ini tidak hanya untuk tahun depan, tapi untuk beberapa tahun," imbuhnya.
(wep/ang)











































