"Yang terpenting untuk mendorong sektor rill, para emiten harus mau investasi langsung membangun pabrik, permesinan, hingga menambah aset yang baru, " jelas Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa dalam perbincangan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) SCBD, Jakarta, Senin (4/01/2010).
Ia mencontohkan, bagaimana para BUMN bisa menjadi percontohan emiten lain untuk berinvestasi langsung. Seperti yang dilakukan Semen Gresik yang mulai membangun pabrik baru, juga Pertambangan Bukit Asam dengan jalur kereta api sebagai sarana angkutan nikel, bauksit dan alumina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus digalakan. Harusnya dilakukan 2-3 tahun lalu. Padahal dana mereka ada," jelasnya.
Ditambahkannya, emiten BUMN juga harus lebih berani. Jangan ambil kebijakan yang konservatif. Pasar modal harus dikapitalisasi dengan baik, bukan semata kinerja. Rata-rata emiten BUMN, dinilainya memiliki kelebihan kas.
"80% dana emiten hanya equity. Seperti Jasa Marga (JSMR), likuiditasnya banyak tapi enggak dipakai. Harusnya untuk sektor riil," katanya.
Pemerintah pun harus memberi insentif, misalkan dengan subsidi suku bunga, hingga pemegang saham akan melihat prospek penanaman investasi langsung, menjanjikan dan dapat memperoleh keuntungan.
Erwin juga mengungkapkan, pencapaian prestasi pasar modal pada perdagangan 2009, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap sektor riil. "Sektor pasar modal lebih banyak putaran dana di pasar uang saja, sedangkan perusahaan yang sudah listing tidak melakukan ekspansi atas kinerja baik mereka tahun lalu," imbuhnya.
(wep/ang)











































