'(Penguatan) itu hubungannya dengan arus valas dan itu jangan terlalu dilihat sebagai sesuatu yang permanen,'' ungkap Darmin saat ditemui di Gedung Departemen Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (7/1/2010).
Menurut Darmin, penguatan rupiah hingga kisaran Rp 9.200 per dolar AS saat ini, disebabkan para pelaku pasar telah memprediksi BI akan tetap mempertahankan kebijakan BI rate di level 6,5%.
''Sehingga dia (pelaku pasar) dulu-duluan masuk, dan rupiah memang agak besar masuknya pada beberapa hari terakhir,'' tambah Darmin.
Darmin melihat penguatan rupiah belakangan hari ini tergolong cepat. Dia memperkirakan pengaruh utama penguatan disebabkan sentimen pasar atau ekspektasi para pelaku pasar. Termasuk, lanjut dia, BI juga kebijakan bank sentral di negara lain.
''Bagaimanapun juga dilihat dari surat-surat berharga itu kan, indikasinya mereka akan mudah melihat indikasi policy rate BI rate-nya, nilai di negara lain termasuk di negara asal berapa,'' ujarnya.
Darmin meminta para pelaku ekspor dan impor agar tidak terpengaruh kepada penguatan rupiah yang tajam ini, sebab sifat dari penguatan ini hanya sementara.
(nia/dnl)











































