BEJ Belum Bisa Cabut Suspensi Saham Indofarma
Sabtu, 17 Apr 2004 12:12 WIB
Jakarta - Meski manajemen PT Indofarma Tbk (INAF) sudah menyampaikan laporan keuangan tahun 2003, namun otoritas Bursa Efek Jakarta (BEJ) belum akan mencabut suspensi (penghentian semnetara) saham emiten tersebut yang tidak bisa diperdagangkan sejak 26 Maret 2004.Menurut Dirut BEJ Erry Firmansyah akhir pekan ini, pihaknya belum bisa mencabut suspensi tersebut karena masih ada beberapa hal yang harus dimintai konfirmasi lagi kepada manajemen."Suspensi Indofarma belum dicabut karena masih ada beberapa hal untuk dimintai konfirmasi, masih perlu minta penjelasan ke manajemen," ujar Erry.Untuk itu manajemen Indofarma akan diminta untuk melakukan publik ekspose. BEJ menilai pelaksanaan publik ekspose itu sangat material sehigga perlu dilakukan, dimana setelah itu suspensi saham Indofarma bisa dicabut.Kinerja keuangan Indofarma per tahun 2003 mengalami kerugian yang sangat besar. Tercatat rugi bersih tahun 2003 sebesar Rp sebesar Rp 129,570 miliar, membengkak dibandingkan tahun 2002 yang rugi bersih Rp 59,825 miliar.Namun demikian laporan keuangan tersebut masih memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Kantor Akuntan Publik Hadori & Rekan. Dalam penjelasan auditor disebutkan, besarnya kerugian yang dialami Indofarma, karena pada tahun 2003 baru diketahui bahwa persediaan sebagai akibat pembelian pada tahun 2000,2001,2002 kondisinya dikategorikan rusak dan kadaluarsa. Kategori rusak dan kadaluarsa terjadi baik untuk barang jadi maupun bahan penolong yang mempunyai dampak terhadap kenaikan biaya yang diperhitungkan dalam cadangan penyisihan nilai persediaan sebesar Rp 80,040 miliar. Kenaikan cadangan penyisihan inilah yang berdampak terhadap bertambahnya kerugian tahun 2003. Sementara penjualan bersih Indofarma per tahun 2003 juga turun sebesar 27,58 persen menjadi Rp 498,206 miliar dibandingkan tahun 2002 yang sebesar Rp 687,983 miliar. Perseroan juga mencatat rugi usaha sebesar Rp 47,051 miliar lebih kecil dibanding rugi usaha tahun 2002 yang sebesar Rp 62,257 miliar.
(ir/)











































