"Problemnya, untung kurs itu bisa kena pajak. Itu mengganggu kas perusahaan karena harus bayar padahal cash-nya tidak ada," kata Sekretaris Kementerian BUMN M Said Didu di ruang kerjanya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (15/1/2010).
Menurut Said, jika penghitungan kurs tersebut memakai acuan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2010 sebesar Rp 10.000 maka itu menjadi titik rawan bagi target perolehan laba bersih tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga penghujung tahun 2010, BUMN telekomunikasi ditargetkan bisa meraup laba bersih sebanyak Rp 12,21 triliun, naik sebanyak 30,9 persen dari proyeksi raupan laba bersih tahun 2009 sebesar Rp 9,33 triliun.
Ia mengaku optimistis target tersebut bisa tercapai, menurutnya, kualitas produk dan pelayanan BUMN telekomunikasi masih bisa bersaing dengan baik di tahun 2010 ini. Perang tarif yang selama ini sengit berlangsung juga diperkirakan tidak akan mempengaruhi pengejaran target laba tersebut.
"Pengguna telepon tidak lagi melihat tarif, tapi kemudahan berkomunikasi. Kalau BUMN itu kualitasnya dijamin," ujarnya.
Ia mengatakan, target perolehan laba tersebut mayoritas didominasi oleh PT Telkom (Persero) Tbk sebagai penyumbang terbesar. Perusahaan plat merah lain yang masuk dalam industri telekomunikasi adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).
Sementara belanja modal alias capital expenditure (capex) BUMN telekomunikasi di tahun 2010 mencapai Rp 20,7 triliun, naik 61,1 persen dibandingkan tahun 2009 sebesar Rp 12,85 triliun. Menurut Said, capex mayoritas dari nilai capex tersebut akan digunakan untuk meningkatkan pelayanan.
(ang/qom)











































