Kenangan Chairul tersebut disampaikan saat ditemui di rumah duka, Jalan Taman Patra IX No. 9 Kuningan Timur Jakarta, Rabu (20/1/2010) usai melayat jenazah orang nomor satu Astra tersebut.
"Kamis malam saya masih ketemu. Beliau ceramah di Rakor Bank Mega. Bahkan saya bercanda, Astra keuntungan Rp 10 triliun, tapi kantornya masih di Sunter," kenang Chairul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun karena dia ngga enak, sudah janji, beliau tetap datang. Dia ceramah sambil duduk," ujarnya.
Ia menganggap pertemuan terakhir pada Kamis lalu menjadi moment perpisahan yang tak terlupakan. Chairul juga menilai Michael sebagai sahabat sejak lama.
"Saya kenal baik. Istri sya, teman sekelas beliau waktu SMA. Tidak hanya kenal karena dia orang Astra, sudah lama," katanya.
Lanjutnya, " saya dapat kabar, Jumat dia drop. Saya ga sempat jenguk ke Medistra. Saya tahunya dia sudah di Singapura. Padahal pagi-pagi (Jumat), dia tetap ke kantor, karena ada janji," paparnya.
Ada hikmah yang bisa diperoleh bagi rekan yang masih hidup. Menurutnya, ternyata ajal tidak bisa diprediksi.
"Kita, Indonesia sudah kehilangan satu orang baik," imbuhnya.
Michael wafat sekitar pukul 07.08 waktu Singapura atau sekitar pukul 06.08 WIB di rumah sakit Mount Elizabeth. Michael sempat didiagnosa demam berdarah, namun kondisinya terus memburuk sebelum akhirnya keluarga memutuskan membawa Michael ke RS Mount Elizabeth, Singapura.
Menurut Corporate Secretary Astra, Aminuddin mengatakan, secara umum penyakit utama yang diderita almarhum Michael adalah Demam Berdarah akut, meskipun ada komplikasi dengan penyakit lainnya seperti Diabetes.
Michael dilarikan ke RS Medistra, Tebet pada pada hari Sabtu (16/1/2010) sore setelah tiba-tiba merasakan pusing di kepala yang cukup keras.
Sayangnya, lanjut Aminuddin, kondisi tak kunjung membaik. Oleh sebab itu pada hari Senin (18/1/2010) pagi, keluarga memutuskan membawa almarhum Michael ke rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura.
(wep/qom)











































