Diduga Terkait Konvensi Golkar, IHSG Catat Rekor Tertinggi
Selasa, 20 Apr 2004 16:17 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (20/4/2004) mengukir rekor baru dengan mencatat kenaikan 26,020 poin (naik 3,31 persen) pada level tertinggi dalam sejarah pasar modal 810,859. Kenaikan indeks selain karena kreasi pasar, ditengarai juga disebabkan oleh invisible hand terkait dengan pelaksanaan konvensi Golkar.Indeks LQ 45 (Indeks 45 saham teraktif) naik 6,798 poin pada level 177,242, JII (Jakarta Islamic Indeks) naik 5,562 poin pada level 138,812, MBX (indeks papan utama) naik 7,558 poin pada level 219,749 dan DBX (indeks papan pengembangan) naik 5,082 poin pada level 185,092.Perdagangan di pasar reguler juga berjalan ramai dengan transaksi 22.980 kali pada volume 3,836 juta lot saham senilai Rp 1,483 triliun. Sebanyak 113 saham naik, 31 saham turun dan 245 saham stagnan.Di jajaran top gainer saham yang naik harganya didominasi saham-saham unggulan, seperti Telkom naik Rp 600 menjadi Rp 8.600, Gudang Garam naik Rp 500 menjadi Rp 14.800, Astra Internasional naik Rp 450 menjadi Rp 5.800, HM Sampoerna naik Rp 125 menjadi Rp 4.975, Bank BCA naik Rp 100 menjadi Rp 3.875, Aneka Tambang naik Rp 100 menjadi Rp 1.375, Adhi Karya naik Rp 65 menjadi Rp 475, Bank Mandiri naik Rp 50 menjadi Rp 1.500.Sedangkan saham yang turun harganya di top loser diantaranya PGN turun Rp 25 menjadi Rp 1.325, Gajah Tunggal turun Rp 25 menjadi Rp 600, Limas Stokhomindo turun Rp 25 menjadi Rp 950, Kawasan Industri Jababeka turn Rp 5 menjadi Rp 95, Trimegah Securities turun Rp 5 menjadi Rp 165.Kondisi IHSG hari ini mencatat rekor tertinggi dalam sejarah adanya pasar modal di Indonesia. Menurut analis dari Kuo Capital Raharja Edwin Sinaga, kenaikan indeks disebabkan karena adanya kreasi pasar yang menggiring indeks hingga ke level 800 setelah sebelumnya level 790 terlewati.Kondisi ini terjadi karena investor melihat saham-saham unggulan dan lapis dua masih berpotensi untuk terus naik setelah sentimen Pemilu berjalan aman. Di sisi lain, Edwin melihat adanya pelaksanaan konvensi Golkar bukan tidak mungkin juga mendorong kenaikan indeks. Pasalnya bisa saja ada orang-orang yang berkepentingan agar kemenangan Golkar dalam Pemilu dinilai bisa diterima pasar. "Jadi ada hubungannya kesana," katanya. Apalagi dengan kondisi pasar saham di Indonesia saat ini yang sangat mudah turun naiknya. Dengan memiliki dana Rp 50 miliar seseorang dapat menaikan indeks secara signifikan.
(nit/)











































