Pada perdagangan Jumat (22/1/2010), indeks Dow Jones ditutup merosot 216,90 poin (2,09%) ke level 10.172,98. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 24,72 poin (2,21%) ke level 1.091,76 dan Nasdaq anjlok 60,14 poin (2,67%) ke level 2.205,29.
Analis mengatakan, aksi jual besar-besaran yang terjadi dalam 2 hari terakhir merupakan cerminan dari kekhawatiran. Pasar memberikan pesan kepada Obama agar jangan mengambil kebijakan yang ekstrim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya berdampak pada bursa AS, bursa-bursa regional, termasuk Indonesia pun tak luput dari efek tersebut. IHSG dan nilai tukar rupiah pada pekan lalu pun ikut terguncang, dan diprediksi bisa akan berlanjut pada pekan ini.
Ekonom BII, Samuel Ringiringo mengatakan, setidaknya ada 3 berita internasional yang bakal memberikan pengaruh ke pasar pada pekan ini:
1. Kebijakan pengetatan aturan perbankan Obama
"Pelaku pasar AS ternyata cukup reaktif dengan Pernyataan Obama tentang pengetatan regulasi perbankan AS. Mereka memandang bahwa dengan dibatasinya aktivitas perbankan maka mengindikasikan adanya pengetatan moneter serta membatasi profit margin sektor perbankan," ujar ekonom BII, Samuel Ringoringo.
Ia menambahkan, reaksi ini memang boleh dikatakan berlebihan mengingat pernyataan Obama sejatinya ditujukan untuk mengingatkan sektor perbankan agar lebih berhati-hati lagi/tidak terlampau agresif dalam melakukan aksi spekulasi di pasar finansial yang telah mengakibatkan resesi.
"Secara fundamental, di jangka panjang sejatinya ini akan membantu terciptanya praktek perbankan AS yang lebih prudent. Hanya saja sikap reaktif pelaku pasar yang rata-rata berparadgima jangka pendek akan mengakibatkan volatilitas di pasar AS yang tentunya memberikan sentimen negatif ke pasar finansial domestik," urainya.
Β
2. Kebijakan China memperketat kredit
Secara umum reaksi pasar hampir sama dengan kasus pernyataan Obama di atas. Pengetatan kredit dipandang sebagai "menghambat aliran likuiditas" yang dijadikan momentum yang tepat bagi pasar untuk melakukan aksi jual.
"Namun demikian sisi positif yang bisa diambil adalah, Cina cukup waspada menghindari terjadinya gelembung ekonomi dengan cara perlahan-lahan menggunakan exit strategy-nya dari kebijakan moneter longgar ke kebijakan moneter yang lebih terukur," kata Samuel.
3. Antisipasi Pertemuan The Fed
Β
Antisipasi terhadap pertemuan The Fed yang pertama untuk tahun 2010 dan pengumuman GDP AS di akhir minggu Pelaku pasar menggunakan momentum ini untuk cash-in posisi mereka sebagai antisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga AS.
"Ini adalah tindakan wajar bagi para pelaku pasar, apalagi sejak awal januari mereka telah mendapatkan gain yang lumayan," imbuhnya.
Β
Samuel memperkirakan gerak IHSG masih akan mengikuti sentimen global ini sehingga dimungkinkan terjadinya pergerakan yang hati-hati, sideways, dengan kecenderungan koreksi.
Sementara Rupiah sendiri diperkirakan berada di rentang yang cukup lebar 9,300 - 9,450. Rupiah yang memang sudah menguat ke kisaran 9,200 pada awal Januari sedang menghadapi momentum profit taking bersamaan dengan sentimen global tadi.
"Lagipula, permintaan dolar AS (untuk pembayaran utang maupun kebutuhan impor) biasanya cukup besar pada akhir bulan," pungkas Samuel.
(qom/qom)











































