"Gas itu berasal dari Semberah TAC dan diharapkan sudah masuk pada pertengahan tahun ini," ujar Direktur Energy Primer PLN, Nur Pamudji di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (25/1/2010) malam.
Nur Pamudji menyatakan saat ini proses jual beli gas tersebut masih dalam tahap negosiasi dengan pihak pengelola lapangan tersebut.
"Kami masih negosiasi dengan mereka. Jadi harganya juga masih dinegosiasikan," kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Nur Pamudji mengatakan perseroan akan terus berupaya mendapatkan komitmen pasokan gas untuk mengoperasikan pembangkit-pembangkitnya.
Dalam waktu dekat, pembangkit yang akan memperoleh tambahan pasokan gas sebesar 28 MMSCFD yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTGU) Belawan.
Tambahan pasokan tersebut berasal dari lapangan Glagah Kambuna yang dikelola oleh TAC Salamander Glagah Kambuna. Sebelumnya, PLTGU Belawan telah mendapatkan pasokan gas sebesar 10 mmscfd dari lapangan yang sama.
"Minggu ini gas diharapkan sudah bisa masuk," ungkap dia.
Meskipun PLTGU Belawan sudah mendapatkan pasokan gas sebanyak 38 MMSCFD, namun PLTGU yang berada di Sumatera Utara tersebut masih mengalami defisit gas hingga 112 MMSCFD.
"PLTGU Belawan itu butuhnya 150 MMSCFD, tapi baru terpenuhi 38 MMSCFD," kata dia.
Kondisi serupa juga terjadi di PLTGU Tanjung Priok dan Muara Karang yang selama ini memasok listrik untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dari total kebutuhan gas sebesar 385 MMSCFD, baru dapat dipenuhi 150 MMSCFD.
Solusi untuk mengatasi defisit ini yaitu mengambil gas dari terminal gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) terapung yang akan dibangun di Teluk Jakarta dan Medan, Sumatera Utara. Namun sayangnya, kedua terminal terapung tersebut baru akan beroperasi pada September 2011 sehingga untuk mengoperasikan pembangkitnya BUMN listrik itu masih menggunakan BBM.
"Kalau ini sudah menggunakan gas, kami bisa berhemat sekitar US$ 12 per mbbtu," kata dia.
(epi/dro)











































