Demikian hasil dari RUPSLB yang berlangsung di Gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (28/1/2010).
Direktur Indosat, Kaizad Bomi Herjee yang sebelumnya merupakan perwakilan dari STT digantikan oleh Wakil dari Qatar Telecom, Laszlo Imre Barta. Barta merupakan warga Bulgaria yang juga Direktur Pemasaran Grameenphone, Bangladesh.
Sementara dua komisaris Indosat yang diganti adalah Michael Latimer sama Setyanto Prawira Santoso. Keduanya digantikan oleh Alexander Rusli dan Chris Kanter. Alex merupakan mantan staf khusus Menteri BUMN yang juga komisaris PT Krakatau Steel.
Pemerintah Indonesia kini tak lagi mayoritas di Indosat. Pemerintah Indonesia hanya menguasai 14,29% saham Indosat setelah dulu melakukan divestasi.
Sementara Qatar Telecom kini menjadi pemegang saham mayoritas setelah membeli 40,8% saham Indosat yang dimiliki oleh Singapore Technologies Telemedia (STT) pada Juni 2008. Qtel melanjutkannya dengan melakukan tender offer sehingga kini menguasai 65% saham Indosat. Sisa saham Indosat dimiliki oleh publik.
Pasca akuisisi tersebut, Qatar Telecom melakukan perombakan susunan direksi ISAT pada RUPSLB 11 Juni 2009. Jajaran direksi ISAT berdasarkan hasil RUPSLB Juni lalu adalah:
- CEO: Harry Sasongko Tirtotjondro
- Direktur: Peter Wladyslaw Kuncewicz
- Direktur: Kaizad Bomi Heerjee
- Direktur: Stephen Edward Hobb
- Direktur: Fadzri Sentosa
Komisaris utama: H.E Sheikh Abdullah bin Mohammed bin Saud Al Thani
Komisaris: Rachmat Gobel, Jarman, Rionald Silaban, George Thia Peng Heok, Soeprapto, Michael Latimer, Richard F. Seney, Nasser Marafih, Setyanto P. Santosa. (qom/dnl)











































