Demikian disampaikan dalam keterangan perseroan yang dipublikasikan, Selasa (2/2/2010).
Pada tahun 2009, ANTM mencatat pendapatan belum diaudit sebesar Rp 8,647 triliun, turun 9,84% dari tahun 2008 sebesar Rp 9,591 triliun. Kontribusi penurunan terbesar berasal dari pendapatan ferronikel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga rata-rata ferronikel yang diterima perseroan tahun 2009 sebesar US$ 6,63/lb, turun 33% dari tahun 2008 sebesar US$ 9,91/lb. Hal menyebabkan pendapatan ferronikel ANTM tercatat sebesar 2,106 triliun di 2009, turun 40% dari tahun 2008 sebesar Rp 3,517 triliun.
Produksi bijih nikel ANTM di 2009 sebanyak 5,782 juta wmt, turun 12% dari tahun 2008 sebanyak 6,571 juta wmt. Volume penjualan bijih nikel sebanyak 4,901 juta wmt, turun 8% dari tahun sebelumnya sebanyak 5,342 juta wmt. Pendapatan dari bijih nikel perseroan tercatat sebesar Rp 1,673 triliun, turun 43,38% dari tahun 2008 sebesar Rp 2,955 triliun.
Produksi emas ANTM di 2009 sebanyak 2.626 kilogram, turun 7% dari tahun 2008 sebanyak 2.832 kg. Volume penjualan emas ANTM tercatat sebanyak 12.893 kg, naik 31% dari sebelumnya 9.820 kg.
Harga rata-rata pendapatan emas yang diterima perseroan sebesar US$ 970,97/toz, naik 11% dari sebelumnya US$ 873/toz. Pendapatan emas ANTM di pasar ekspor tercatat sebesar Rp 1,614 triliun, turun 23% dari sebelumnya Rp 2,098 triliun.
Namun pendapatan emas ANTM di pasar domestik mencapai Rp 2,706 triliun, melejit 322% dari sebelumnya Rp 641,011 miliar. Total pendapatan emas ANTM di pasar ekspor dan domestik mencapai Rp 4,321 triliun, naik 57,75% dari tahun 2008 sebesar Rp 2,739 triliun.
Ini berarti pendapatan emas ANTM mengambil porsi sebesar 49,97% dari total pendapatan ANTM di 2009 atau menyumbang kontribusi tertinggi ketimbang pendapatan dari ferronikel yang sebesar 40,67% dan penjualan bijih nikel yang hanya sebesar 19,34%.
Β
(dro/qom)











































