Dua Investor Incar Anak Perusahaan Indofarma

Dua Investor Incar Anak Perusahaan Indofarma

- detikFinance
Senin, 26 Apr 2004 17:05 WIB
Jakarta - Dirut PT Indofarma Tbk (INAF) Dani Pratomo mengatakan, hingga saat ini ada dua investor yang serius untuk membeli anak perusahaannya yang bergerak dalam jasa distribusi PT Indofarma Global Medika (IGM). Investor sendiri menginginkan saham mayoritas atas divestasi IGM tersebut. "Ada dua investor strategis yang serius terhadap IGM dan hingga kini mereka masih terus melakukan pembicaraan," kata Dirut PT INAF, Dani Pratomo dalam publik ekspose yang berlangsung di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin,(26/4/2004). Diakui Dani, investor menginginkan menjadi pemegang saham mayoritas di IGM, tapi kita tidak akan menjual semua sahamnya. "Minimal kita tetap menjadi pemegang saham karena divisi distribusi itu sangat strategis kalau kita tidak menguasai kita akan ditekan distributor," ujar Dani. Penjualan IGM ini menurut Dani, sebagai upaya agar investor stretegis yang masuk bisa menyuntik dana ke IGM, karena Indofarma tidak punya dana cukup setelah dua tahun terakhir mengalami kerugian. IGM sendiri pada tahun 2003 menyumbang kerugian yang sangat signifikan terhadap Indofarma yankni sebesar Rp 70,741 miliar. Sementara kerugian Indofarma tahun 2003 mencapai Rp 129,570 miliar membengkak dibanding tahun 2002 yang sebesar Rp 59,826 miliar. Kerugian terbesar Indofarma tahun 2003 karena adanya penyisihan pencadangan untuk alat-alat kesehatan yang sudah kadaluarsa sekitar Rp 80 miliar. Menurut Dani, untuk menghindari kerugian kembali, kedepan manajemen akan memperkuat pengawasan internal tiap tiga bulan untuk stock opaname, selain terus melakukan efisiensi. Sementara mengenai usulan delisting karena perusahaan terus merugi seperti yang dilontarkan Komisaris Independen Rhenald Kasali, Dani menilai hal tersebut akan diserahkan kepada pemegang saham. Saat ini 90 persen saham Indofarma dikuasai pemerintah dan 10 persen dimiliki publik. Dani juga menjelaskan, kondisi Indofarma yang buruk selama dua tahun belakangan ini telah membuat pangsa pasarnya terpuruk. Dimana pada tahun 2002 posisi Indofarma adalah keenam atas penjualan di Indonesia menjadi urutan ke-10 pada tahun 2003. Namun Dani tidak bisa menjelaskan prosentase penurunan pangsa pasar tersebut. Untuk tahun 2004 Indofarma menargetkan penjualan Rp 700 miliar dengan laba bersih Rp 30 miliar. Sedangkan pada triwulan I-2004 ini penjualan Indofarma diprediksi Rp 110 miliar. Perdagangan saham Indofarma sendiri sejak tanggal 26 Maret 2004 disuspensi oleh BEJ. "Kami berharap setelah publik ekspose ini suspensi saham Indofarma bisa dicabut," ujarnya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads