Direktur Utama Timah Wachid Usman mengatakan, di tahun 2009 laba bersih perseroan turun dibandingkan pencapaian laba di tahun 2008. Ini akibat turunnya harga timah dari US$ 18.000 per ton di 2008 menjadi US$ 13.000 per ton di 2009.
"Kita berharap pada tahun ini mudah-mudahan situasi pasar mulai membaik dan permintaan naik. Sehingga biarpun volume penjualan tidak banyak berubah, kita berharap harga naik menjadi US$ 20.000 per ton tahun ini, dari harga di 2009 yang sebesar US$ 12.000-13.000 per ton," ujar Wachid dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, perseroan tahun ini menganggarkan dana sebesar Rp 600 miliar untuk keperluan belanja modal. Dari dana tersebut, sebesar Rp 450-500 miliar akan dialokasikan untuk penambahan 2 kapal keruk dan 5 kapal hisap.
"Sisanya (belanja modal) untuk melanjutkan proyek pin chemical di Cilegon. Uji coba proyek ini mulai April 2010, tahap awal produksi 2.000 ton, dan mulai 2011 produksi menjadi 10.000 ton. Selain itu kami juga masih menjajaki tambang batubara di Kalimantan yang dicari skala sedang dengan reserve 50 juta ton, yang jelas dananya dari pinjaman bank," tuturnya.
(dnl/qom)











































